Rabu, 16 Juli 2014

Aku, Juliet



“... Kau dan aku pernah bertemu dalam satu peristiwa manis yang berlalu begitu saja. Mestinya, cukup sampai di situ pertemuan kita. Jika saja kau tak pernah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupanku.” (hal. 151)


Penulis: Leyla Hana
Penyunting: Sasa
Penyelaras Akhir: Dyah Utami
Pendesain Sampul: Tim Moka Media
Penata letak: Tri Indah Marty
Ilustrator: N. Rivai
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 180 halaman
ISBN: 979-795-840-x

Saat pertama kali melihatnya, aku tau aku menyukainya. Tawanya yang renyah, matanya yang indah dan segalanya. Tak ada yang lebih kuinginkan dibandingkan bersamanya. Tetapi jalan kami tak semudah itu. begitu tinggi dinding sekolah memisahkan kami atas nama kebencian yang sudah ada, entah sejak kapan. Terlalu banyak air mata yang mengalir, terlalu banyak darah yang menetes.

Aku tak ingin jadi Romeo. Aku hanya ingin mencintai dia, Julietku. Tetapi cinta tidak berpihak kepada kami. Haruskan kisah cinta kami berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet?

***


“Perasaan saat jatuh cinta dan dekat dengan sosok yang dicintai itu begitu menyenangkan. Barangkali jika perasaan cinta ini selalu ada di hati manusia, tidak ada seorang pun yang membutuhkan narkoba.” (hal. 60)

Saat membaca judulnya, ada dua dugaan yang melintas tentang isi novel ini. (1) Tokoh utamanya bernama Juliet; (2) ceritanya mengadaptasi karya William Shakespeare. Setelah membacanya  sampai selesai maka hipotesa pertama terbantahkan. Tokoh utamanya tidak bernama Juliet melainkan Camar.

Camar adalah siswi kelas X di SMA Juventia. Sekolah Camar terkenal dengan image “tukang tawuran”. SMA Juventia vs SMA Eleazar selalu terlibat peperangan baik dalam skala kecil maupun besar. Sebelum Camar bersekolah di sana ia sudah tahu hal itu. Namun karena ia juga percaya bahwa SMA Juventia adalah SMA unggulan dengan prestasi yang bagus, maka ia mengabaikan image tersebut.

Di hari pertama masa orientasi sekolah Camar mengenal dua pria. Bayu, seniornya yang berwajah tampan dan menarik yang berhasil membuat Camar jatuh cinta pada pandangan pertama. Abby, siswa dari SMA Eleazar yang ia kenal saat berteduh menanti hujan reda. Kedua pertemuan ini kelak akan berujung menyedihkan.


Awalnya perasaan Camar pada Bayu bertepuk sebelah tangan. Lelaki itu telah memiliki tambatan hati yang cantik jelita bernama Mentari. Camar sadar diri dengan fisiknya yang biasa saja. Namun nasib memberi gadis itu kejutan. Ia akhirnya bisa menjadi pacaa Bayu. Sayangnya jalinan cinta mereka tak seindah yang Camar kira. Selain itu kehadiran Abby membawa kenyamanan yang tidak pernah Camar temukan dari Bayu.

Semua kerumitan itu berujung pada tawuran yang melibatkan Bayu dan Abby. Hingga membuat Camar merasa antara ia dan Abby bak Romeo & Juliet yang kisah cintanya terhalang oleh permusuhan yang bahkan mereka tidak tahu kapan bermulanya.

***

“Jika kau telah memilih, maka berbahagialah dengan pilihanmu.” (hal.157)

Kisah yang disuguhkan Leyla Hana ini pada dasarnya menarik. Mengambil setting cerita dari dua buah kelompok yang berseteru sekaligus mengangkat realitas tentang tradisi tawuran di kalangan anak sekolah. Ide yang menarik.

Sayang diksinya masih terasa kurang. Deskripsi sikap dan fiksi masih banyak disebutkan dan jarang ditunjukkan. Ini juga membuat pembaca kurang terseret dalam arus emosi yang berusaha dibangun oleh penulis. Sayang sebenarnya karena ending cerita cukup tragis menurut saya. Selain itu, kisah persahabatan Camar dan Sasa yang seharusnya bisa menjadi bumbu yang menarik dalam cerita tidak dieksekusi dengan baik. Padahal ini juga bisa menjadi poin menarik.

Judul dan blurb  yang disebutkan di cover depan sudah cukup menarik. Tapi gambar sampul masih kurang menarik. Kurang meremaja dan kurang mencermnkan isinya. Ilustrasi di dalam buku sudah cukup bagus dan sesuai dengan isi cerita. Huruf dan tata letak isi novelnya juga sudah menarik dan ramah bagi mata.

Secara keseluruhan, buku ini sudah cukup menarik kok. Lain kali saya akan mencoba mencicipi karya Mbak Leyla Hana. 


“Kalau kau berani jatuh cinta, maka kau harus berani patah hati. Sebab luka yang ditorehkan oleh orang yang kau cintai, lebih sakit daripada luka yang ditorehkan oleh orang yang tidak ada di hatimu.” (hal. 81)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar