Kamis, 24 Juli 2014

Bunga di Atas Batu

"Namanya juga hidup, kalau terus sama berarti ndak akan ada perubahan dan pelajaran yang bakal kita dapat tho." (hal. 59)

Penulis: Aesna
Penyunting: Dea Anugrah
Perancang Sampul: Fahmi Fauzi
Penyelaras Akhir: Dedik Priyanto
Penata Letak: Tri Indah Marty
Ilustrator: Fahmi Fauzi
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iii + 129 halaman
ISBN: 979-795-842-6
Iris yang baik,

Setelah kupertimbangkan masak-masak, beginilah akhirnya cara yang kupilih. Bukan supaya diriku terelak dari duka perpisahan. Ketahuilah, pada huruf-huruf terakhir setiap kata yang kutulis, kesedihan menderaku tanpa ampun bagaikan pesuruh Zeus mendera Prometeus yang malang (bukankah kamu menyukai dongeng-dongeng Yunani?). Kutahankan rasa sakit itu demi hal-hal yang mungkin bisa kujelaskan lebih baik secara tertulis ketimbang dibicarakan langsung. Jika terasa tidak adil, maafkanlah.

Manakala surat ini sampai padamu, telah jauh aku meninggalkan rumah dan “tempat rahasia kita.” Tapi yakinlah, jarak di antara dua manusia bukan melulu perkara terlihat atau tidaknya sosok, terdengar atau tidaknya suara, terasa atau tidaknya sentuhan, terhirup atau tidaknya aroma masing-masing. Selama ini, misalnya, dengan bertemu setiap hari, seberapa dekat sebenarnya hati kita? Seberapa banyak kau mengerti perasaanku atas dirimu dan sebaliknya?

***
Pemilihan judul yang menarik. Sebuah filosofi tentang kondisi yang tidak selayaknya. Setangkai bunga selayaknya tumbuh di atas tanah. Bukan di atas batu. Mengutip kalimat di dalam novel ini, “Karena tumbuh di tempat yang keliru itulah, kukira, ia akhirnya bernasib tak ubahnya lumut: menanti, menanti, dibakar sepi.”

Tokoh yang diciptakan oleh Aesna boleh saja remaja. Namun sikap keduanya lebih dewasa  dalam menghadapi konflik yang muncul. Aesna melalui tokoh-tokohnya mengangkat kemelut usia muda dengan lebih matang. Kebingungan tentang penemuan cinta, jati diri, dan serta belajar melepaskan. Semua dipacking sederhana dalam potret dua remaja yang sudah bersahabat sejak kecil, Iris dan Bara.


Plot umum cerita sebenarnya cukup mainstream. Tentang perasaan cinta yang tumbuh di antara dua orang sahabat. Namun karena takut merusak hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin, pihak yang mencintai menjadi takut untuk menunjukkan ataupun menyampaikan perasaannya.

Plot itu memang sudah banyak ditemukan di berbagai novel, baik untuk remaja hingga dewasa. Namun penambahan konflik tentang dilema Bara dalam mengambil keputusan untuk masa depan pendidikannya serta bagaimana ia menghadapi kehilangan orang terdekatnya menguatkan cerita dan penokohan dalam novel ini.

Novel ini menunjukkan bahwa masa remaja tidak melulu tentang cinta. Namun juga tentang keluarga dan persahabatan. Hati tidak hanya dipenuhi bunga-bunga indah karena virus merah jambu, namun juga disesaki oleh kepedihan dan kemampuan belajar untuk menghadapi berbagai masalah yang menghadang.

Kehidupan Bara menjadi potret lain remaja masa kini. Dan kisah ini pun bisa memberi pengalaman membaca yang cukup berbeda bagi remaja. Melalui novel ini pembaca muda diajak belajar banyak hal. Tentang menjadi siswa berprestasi dan mengejar impian. Tentang belajar menghadapi kehilangan dan menjadi sosok yang tegar.

Novel ini bagus untuk dibaca remaja. Biar bacaannya gak bikin galau melulu. He..he.. (^_^)v

Oiya, saya suka dengan setiap kutipan yang jadi pembuka chapter di novel ini. Kalimat-kalimatnya inspiratif (^_^)
" .... Yang melukai pantas dilukai. sesederhana itu. ..." (hal. 83)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar