Jumat, 11 Juli 2014

Jasmine



" Masa lalu telah mengajarkannya bahwa setiap menit terlalu berharga. Pengabaian terhadap satu menit, bahkan bisa membuka kesempatan untuk seribu satu kemungkinan." (hal. 117)


Penulis: Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil Ula 1434 H./ April 2013
Jumlah hal.: 320 halaman
ISBN: 978-602-8277-91-4

Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya justru mengundang luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih. Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang putihnya nurani dan indahnya cahaya.

***

Riawani Elyta menyuguhkan materi yang sangat padat dalam novel yang berjudul simple ini. Jika mengharapkan sebuah cerita yang dihiasi bunga-bunga cinta, maka novel Jasmine tidak akan menawarkannya. Namun bukan berarti tidak ada kisah cinta antara sepasang muda-mudi di dalam novel ini. Kita tetap akan membaca kisah cinta. Tapi jauh dari bentuk hubungan yang sudah mainstream  kita baca di novel-novel romance.

Ada beberapa setting cerita yang dipadukan dalam novel ini. Ada episode kehidupan seorang Jasmine, perempuan yang hilang ingatan atau lebih tepat berusaha menghilangkan ingatannya. Ada juga cerita kehidupan Dean Pramudya, anak dari seorang konglomerat yang menantang kehidupan dengan melakukan kejahatan yang berbasis IT. Di sisi lain, ada pula kehidupan di Yayasan Pelita yang mengetengahkan cerita Luthfi  seorang pengurus yayasan yang menangani penderita HIV/AIDS dan kehidupan Malika seorang pengurus yayasan yang juga mengidap HIV/AIDS. Ada pula cerita Rowena, perempuan yang berusaha mencari anak perempuannya yang hilang.


Semua potongan-potongan kehidupan itu bertemu di Batam. Sebuah kota tempat yang tidak hanya menjadi tempat transit untuk sebuah perjalanan wisata, namun juga menjadi gerbang bagi banyak kejahatan internasional seperti human traficking (perdagangan manusia), perdagangan narkotika internasional, cyber crime internasional, dan berbagai kejahatan lainnya.

Apa yang diketengahkan oleh Riawani Elyta adalah sebuah realitas. Kejadian-kejadian yang ia ceritakan kerap kita dengar di berita. Cerita tentang perempuan yang berusaha melarikan diri dari lingkaran perdagangan manusia. Ia yang sebenarnya menolak untuk menjajakan diri, namun tidak punya pilihan lain karena dipaksa, disiksa, dan diancam. Cerita ini diangkat dari kacamata Jasmine. Perempuan yang mengalami trauma dan berusaha melarikan diri dari induk semangnya karena sebenarnya tidak ingin menjalani pekerjaan sebagai pelacur.

Dari tokoh Dean Pramudya, penulis menyuguhkan tentang bagaimana hubungan sebuah keluarga bisa membentuk dan mempengaruhi pilihan-pilihan seseorang. Dean Pramudya yang bisa memiliki segala yang ia inginkan hanya dengan meminta uang pada orang tua malah memilih jalan memutar. Ia menjadi bagian sindikat pembobol bank. Tidak hanya menjadi bagiannya, Dean bahkan menjadi salah satu otak pengendali kelompok cyber crime.

Dua kejadian ini berkait saat Dean dan Jasmine bertemu dan memiliki ketertarikan satu sama lain. Sayangnya kehidupan menguji mereka. Jasmine dengan pelariannya yang tanpa henti, dan Dean dengan persembunyiannya dari kejaran aparat hukum. Bedanya, Dean sebenarnya memiliki pilihan untuk berhenti, sedangkan Jasmine tidak punya pilihan namun berusaha membuat peluang untuk dirinya sendiri. Tuhan kemudian mempertemukan Jasmine dengan Yayasan Pelita dan Ibu Rowena. Di titik ini semua kisah itu tersimpul jadi satu.

***

Tulisan Riawani Elyta ini sarat dengan deskripsi. Namun diksinya tidak klise. Ia juga menyuguhkan cerita dengan apik tanpa terkesan menggurui. Ia mengetengahkan beberapa kritikan terhadap pemahaman masyarakat tentang suatu hal namun jauh dari kesan mendikte. Ia mengetengahkan cerita tentang orang-orang seperti kakak Luthfi dan Malika yang menerima stigma buruk karena mengidap HIV/AIDS padahal mereka adalah orang yang sebelumnya hidup dengan normal, namun sayangnya mendapatkan pasangan yang menderita penyakit tersebut.

Ia juga mengetengahkan tentang kasus orang tua yang abai terhadap anaknya. Kasus remaja putri yang diperdaya hingga akhirnya menjadi korban human traficiking. Dan satu kasus yang cukup miris namun nyata yang disuguhkan dalam buku ini, yaitu tentang orang tua yang menjual anaknya sendiri menjadi pelacur. Naudzubillah (>_<)

Meski  pun materi yang diceritakan di dalam novel ini sangat padat dan sebenarnya cukup berat, namun plot ceritanya membuat pembaca tertarik untuk terus membaca. Ingin tahu akan seperti apa cerita berikut. Dan mengikut masa pelarian Jasmine dan kejar-kejaran Dean sebagai pelaku kejahatan pun memberi sensasi ketegangan tersendiri dan terus bertanya, “selanjutnya bagaimana?”

Saya cukup suka dengan novel ini. Thanks untuk padatnya informasi yang dibagi dalam buku ini. Semoga ini membuka mata lebih banyak orang tentang semua hal tersebut dan membuat kita bisa lebih bijak menyikapinya.


"Aku yakin, Allah telah menyiapkan sesuatu untukku di akhir perjalanan nanti. Sesuatu yang  ia berikan atas nama kasih sayang pada hamba-hamba-Nya, meski sang hamba tak lagi punya harga dan derajat di mata manusia ...." (hal. 315)

4 komentar:

  1. aku sudah pernah baca novel ini. ceritanya bagus banget (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, setuju. Saya malah tidak menduga kisahnya akan se-wow itu. Makanya saat selesai langsung mikir. Bisa ya masalah seberat ini dibahas dengan fiksi.
      *kasih jempol*

      Hapus