Kamis, 24 Juli 2014

Lotte Rangkap Dua



“ ..., malam-malam, terkadang muncul tuyul bernama Rindu di ruang tidur anak-anak. Si Rindu mengeluarkan buku hitungan serta pensilnya yang berwarna buram, lalu dengan wajah murung dihitungnya air mata anak-anak yang berbaring di tempat tidur masing-masing. Baik air mata yang kelihatan menetes, maupun yang hanya mengalir dalam hati.” (hal. 7)


Judul Asli: Das Doppelte Lottchen
Penulis: Erich Kästner
Alih Bahasa: Agus Setiadi
Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Juli 2001
Jumlah hal.: 190 halaman
ISBN: 979-686-478-9

Aneh juga rasanya, apabila dua gadis cilik yang sebelumnya tidak saling mengenal, tiba-tiba bertatap muka dan melihat bahwa penampilan mereka sangat serupa –seperti pinang dibelah dua! Satu-satunya yang membedakan mereka adalah bahwa Luise Palfy yang dari Wina berambut ikal terurai, sedangkan Lotte Körner dari München dikepang rambutnya. Mereka memerlukan waktu beberapa hari, sebelum akhirnya bisa mengatasi rasa terkejut. Tapi mulai saat itu keduanya berusaha mencari penjelasan, apa sebabnya wajah mereka begitu mirip: Luise mengaku bahwa ia Lotte dan kembali ke München, sementara Lotte pergi ke Wina, sebagai Luise .... Bisa dibayangkan, bagaimana kekacauan yang kemudian terjadi: di sekolah, di kalangan teman-teman, dan terutama di rumah masing-masing!

***

“.... Tapi dari gencatan senjata, masih jauh perjalanan menuju perdamaian.” (hal. 23)

Sebenarnya cerita Lotte Rangkap Dua ini sudah cukup familiar. Buku karya Erich Kästner ini sudah pernah diadaptasi dalam bentuk film. Salah satunya di industri film Amerika dengan judul The Parents Trap yang diperankan oleh Lindsay Lohan.

Cerita yang ditulis oleh Erich Kästner berkisah tentang dua orang anak perempuan yang bertemu di sebuah Wisma Anak-Anak di desa Seebühl. Saat pertama kali bertatapan keduanya merasa terperanjat. Bahkan Luise merasa marah karena ada anak perempuan yang berani menirup rupanya. Ini karena karakter Luise sangat emosional dan suka bersikap seenaknya. Sehingga dalam pertemuan itu, yang muncul pertama kali adalah perasaan marah.

Berbeda dengan Luise, Lotte yang lebih kalem dan dewasa menanggapi kemiripan mereka dengan lebih baik. Dia hanya diliputi keheranan. Namun ia memilih diam. Awalnya keduanya merasa canggung satu sama lain. Namun pihak Wisma Anak-Anak selalu mendekatkan Luise dan Lotte. Mereka dibuat tidur bersebelahan. Di meja makan pun duduk berdekatan. Hingga perlahan-lahan Luise merasa terbiasa dengan Lotte, begitu pun sebaliknya.

Luise lantas bercerita bahwa ia hanya hidup dengan ayahnya. Sedangkan Lotte bercerita bahwa ia hanya memiliki ibu. Suatu hari Lotte memperlihatkan foto ibunya, dan betapa terkejutnya mereka saat Luise berkata bahwa perempuan di dalam foto itu adalah orang yang sama dengan orang yang ada di dalam foto yang pernah terpasang di rumahnya. Ternyata ibu mereka adalah orang yang sama. Lantas muncullah sebuah pertanyaan, “Kenapa mereka dipisahkan? Kenapa orang tua mereka berpisah dan bersikap seolah mereka hanya memiliki satu anak. Padahal mereka punya dua?!”


Setelah itu, keduanya pun  menjalankan rencana untuk bertukar posisi. Luise ingin mengenal ibu. Lotte ingin merasakan hidup dengan seorang ayah. Rencana ini membuat banyak orang merasa heran. Lotte yang biasanya pintar, teliti, rapi, dan tenang mendadak berubah menjadi periang, banyak tingkah, dan kurang perhatian. Begitupun dengan Luise. Luise yang biasanya mudah emosi, tidak tahu berbagai urusan di dapur, dan tidak begitu memperhatikan pelajaran, mendadak menjadi anak yang tenang dan bijaksana. Ini awalnya membuat banyak orang heran. Namun mereka hanya berfikir bahwa itu adalah efek dari liburan yang mereka lewatkan di Wisma Anak-Anak.

Rencana ini berjalan lancar hingga suatu hari ibu mereka, Luiselotte, tanpa sengaja mendapati foto kedua anak tersebut yang sempat diambil oleh seorang tukang foto di pedesaan. Saat itulah ia mulai menyadari semua keanehan yang terjadi dalam diri Lotte. Ia pun lantas menduga bahwa yang ada di rumahnya bukanlah Lotte melainkan putrinya yang satu lagi.

Cerita ini tidaklah begitu rumit. Sangat simple. Kehadiran Nona Gerlach, kekasih baru ayah Luise (dan Lotte), memang sempat merumitkan masalah. Namun happy ending jauh lebih menyenangkan dibaca oleh anak-anak, jadi jelas kita bisa menebak akhir cerita akan seperti apa. ;)

***

Cerita ini sudah cukup familiar bagi saya. tapi ini pertama kalinya saya membaca langsung bukunya. Dan menariknya deskripsi yang disampaikan oleh Erich Kästner sangat simple dan penuh imajinasi. Ada cerita saat Lotte bermimpi tentang ia, Luise, ayah, ibu, dan Nona Gerlach. Mimpi yang dituturkan Erich Kästner benar-benar terdeskripsi dengan baik dan menjadi penggalan cerita singkat yang terinspirasi oleh dongeng Hänsel & Gratel.
ilustrasi mimpi Lotte

Cara Erich Kästner juga menjelaskan tentang perceraian dalam buku (di halaman 67) untuk anak-anka cukup argumentatif. Seolah mengantisipasi gugatan dari orang dewasa yang ikut membaca buku ini dan menganggap penjelasan tentang perceraian tidaklah untuk anak-anak. Padahal menurut Erich Kästner anak-anak berhak tahu tentang perceraian karena mereka termasuk pihak yang menanggung akibat dari hal itu.

Buku ini pertama kali dipublikasi tahun 1949, dan sebuah terobosan baru bagi penjelasan semacam itu dalam buku anak-anak. Ia memberi ruang bagi anak-anak untuk didengarkan. Tidak melulu dianggap sebagai pihak yang harus menerima begitu saja keputusan orang tua tanpa diberi penjelasan apapun. 

ilustrasi Lotte & Luise
Oiya, buku ini cukup menarik dengan ilustrasi-ilustrasi yang ditempatkan di beberapa bagian. Yang paling menarik adalah gambaran Luise & Lotte di sebuah padang rumput. Gadis kembar, yang hanya berbeda dalam tatanan rambut saja

Ah, keren Pak Erich Kästner (^_^)

1 komentar:

  1. aahhh.. jadi kangen pengen baca ulang buku inii :D

    BalasHapus