Sabtu, 23 Agustus 2014

A Cup of Tarapuccino



“...masa lalu cukuplah menjadi sejarah, yang hanya perlu dimasuki saat-saat dirimu membutuhkan kehadirannya untuk berkontemplasi.” (hal. 266)


Penulis: Riawani Elyta & Rika Y Sari
Penyunting bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil Tsaniyah 1434 H./ April 2013
Jumlah hal.: 304 halaman
ISBN: 978-602-8277-88-4

Ada seseorang dari masa lalu. Sesosok maya, yang tak pernah sekalipun ia lihat atau temui paras wujudnya, namun hampir saja menjadi bagian terpenting dari hari-harinya. Sosok-sosok yang menggetarkan hatinya. Sosok yang hampir saja mengisi cangkir hatinya dengan cinta, rindu, juga harapan.
“Saat pertama kali melihatnya, kau akan merasa seolah melihat sebuah peach, dengan warna kulitnya yang cantik, membuat orang pasti tak tahan untuk mengupasnya, dan isi di dalamnya juga tak kalah mempesona. Tapi di saat kau memakannya, pertama-tama kau akan terkejut akan rasa asamnya yang sangat, tapi saat kau terus mengunyahnya, kau akan merasakan cinta dan sensasi yang luar biasa, sensasi rasa yang elegan, yang membuat kau tak akan bisa melupakannya.”

***

Saya kembali membaca sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva. Buku sebelumnya, Jasmine,  yang juga ditulis oleh Riawani Elyta membawa cerita yang cukup kompleks. Banyak hal yang dipadukan menjadi sebuah cerita dengan diksi yang apik. Maka kali ini novel ini pun sama kompleksnya.

A Cup of Tarapuccino ini sedikit berbeda dengan Jasmine. Karena nilai islami dalam Jasmine tidak begitu kental mewarnai kehidupan tokoh-tokohnya. Mungkin ini ada hubungannya dengan tema cerita yang diangkat. Namun dalam novel ini, kehidupan islami yang ingin dituangkan oleh penulis sangat terasa. 

Melalui sosok tokoh utama perempuannya, Tara, ditampilkan sebuah kehidupan yang sangat kental diwarnai oleh nilai-nilai Islam. Tara digambarkan sebagai perempuan yang kompeten, mandiri, cekatan, kreatif dan inovatif. Dari segi penampilan Tara ditampilkan selalu nampak anggun dan cerdas dalam balutan jilbab. Tara juga digambarkan sebagai sosok yang sangat menjaga pandangan. Ia pun menjaga diri dan kehormatannya dalam pergaulannya dengan lawan jenis. Meskipun agak aneh juga mengingat ia tidak melakukan hal yang sama pada Raffi, sepupu yang juga partnernya dalam menjalankan usaha Bread Time. Padahal dalam Islam, sepupu pun tidak termasuk dalam mahram.

Ada dua tokoh pria dalam kehidupan Tara. Ia adalah Raffi dan Hazel. Raffi adalah sepupu yang sudah dikenal Tara sejak kecil. Mereka sama-sama mendirikan dan membesarkan Bread Time, sebuah bakery. Mereka mengelola usaha itu dengan menjadikan syariat Islam sebagai pegangannya. Saat adzan mereka akan menutup toko sebentar. Bahkan mereka juga sering kali mengajak seluruh karyawan untuk shalat berjamaah di masjid. Setiap karyawan perempuan diwajibkan menggunakan jilbab. Selain itu dengan ide-ide Tara, Bread Time tidak sepi dari inovasi-inovasi segar. Membantu usaha mereka bersaing dengan usaha makanan lainnya.


Selain Raffi, ada pula Hazel. Hazel ini sebelumnya adalah pelanggan yang kemudian menjadi salah satu karyawan Bread Time. Hazel membidangi desain grafis yang bertanggung jawab membuat majalah bulanan yang menjadi salah satu terobosan bakery tersebut. Diam-diam Tara memiliki ketertarikan pada Hazel yang digambarkan memiliki darah kaukasia. Ketertarikan yang Tara sendiri tidak menduga kehadirannya.

Novel ini tidak berfokus pada percintaan. Dimensi itu hanya 20% dari bagian cerita. Novel ini malah lebih banyak mengangkat tentang seluk beluk dunia usaha bakery. Dengan menampilkan sosok Tara dan Raffi sebagai pengusaha islam yang idealis. Mereka yang ketika menyadari bahwa selama ini bahan baku mereka yang mereka pakai ternyata di duga mengandung minyak babi tanpa ragu menggantinya dengan bahan lain. Mereka memahami resiko kerugian dan pengaruhnya pada cita rasa. Namun mereka tidak ingin bermain-main dengan label “halal” yang mereka dapatkan dari MUI.

Dalam novel ini juga diceritakan tentang bisnis ilegal yang merebak di Batam yang tidak hanya dalam bisnis barang elektronik (yang sudah umum diketahui masyarakat Indonesia). Ternyata bisnis ilegal ini pun merambah hingga bahan baku makanan. Bisnin ilegal ini kemudian entah bagaimana memiliki pertalian dengan Bread Time. Membuat usaha tersebut beberapa kali mendapat ancaman dari orang yang tidak dikenal. Hingga sebuah sabotase membuat nama baik Bread Time tercemar.

Mampukah Tara menyelamatkan Bread Time? Bagaimana hubungan Raffi, Tara, dan Hazel?  Ups, untuk pertanyaan yang terakhir saya bahkan belum tahu jawabannya karena akhir ceritanya dibuat menggantung oleh penulis (>_<). Mungkin biar pembaca bisa membuat akhir cerita sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing *eh?!*

Hm..sekali lagi saya disuguhi cerita kompleks yang mengangkat realitas di sebuah kota yang menjadi pintu bagi sejumlah bisnis ilegal, kota Batam. Tidak melulu mendayu-dayu tapi juga menampilkan sosok perempuan yang tangguh. 

Nice book Mbak Riawani Elyta & Rika Y Sari. Terima kasih untuk buku bagusnya Penerbit Indiva *hug*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar