Kamis, 07 Agustus 2014

TWIRIES: The Freaky Twins Diaries




Penulis: Eva Sri Rahayu & Evi Sri Rezeki
Editor: Ainini
Komik & ilustrator: Zamal Matian
Inker: Anton Gustian
Desain Cover: Ann_ Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de Teens
Cetakan: Pertama, Mei 2014
Jumlah hal.: 303 halaman
ISBN: 978-602-255-577-3
“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu.
“Nah, kalau mata Evi itu belo-belo sipit. Kalau saya sipit-sipit belo,” jawab Eva dengan bersemangat.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang keseratus tujuh.
“Evi belo, saya sipit,” jawab Evi dengan tangan mengetuk-ngetuk tak sabar.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang ketiga ribu tiga puluh dua.
“Belo, sipit,” kata kami dengan muka datar dan memberi jawaban yang tidak menjelaskan sama sekali.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu juta delapan ratus ribu empat puluh sembilan.
Menyipitkan mata. “....”

Hal-hal yang membuatmu penasaran sama si kembar, seperti, “Mereka pernah bertukar sekolah?”
“Pernah bertukar pacar?”
“Atau punya telepati?”

Temukan jawabannya di buku ini.

Tonton juga TwiRies Book Trailer ini:

***
Bagaimana rasanya punya saudara kembar ya? Kayaknya seru deh. Bisa kemana-mana berdua. Bisa tukaran baju. Bisa curhat tiap hari. Bisa ngerjain orang dan tukaran tempat kalau lagi bosan sama kehidupan sendiri *halah*. Masih banyak bisa-bisa lainnya.
Buku Twiries: The Freaky Twins Diaries adalah buku yang akan menjabarkan berbagai “kebisaan” jadi anak kembar. Buku ini ditulis dengan gaya yang cukup unik. Eva dan Evi tidak menulis sebagai dua pribadi tunggal yang berkolaborasi. Mereka menulisnya sebagai satu tim dengan POV orang pertama jamak yakni, “kami”.
Serunya, buku ini ditulis dengan cara bercerita yang menggelitik. Sisi humornya cukup ditonjolkan sehingga tidak membuat bosan. Contohnya  cerita tentang pertanyaan yang sering diajukan orang-orang karena penasaran dengan mereka.  Sebenarnya dengan menyebutnya sebagai “Silly Question” sebenarnya menunjukkan seberapa Mbak Eva dan Mbak Evi kesal menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Namun cara keduanya menuang satu persatu pertanyaan itu dalam buku ini malah jadi sebuah guyonan tersendiri. Ditambah lagi ada komik sebagai ilustrasi cerita.

Membaca buku ini dari awal sampai akhir akan mengenalkan kita pada kehidupan yang dialami mereka yang memiliki saudara kembar. Khususnya kehidupan Mbak Eva dan Mbak Evi. Banyak hal yang dibagi di buku ini. Mulai dari kesyukuran mereka karena memiliki saudara kembar, kesukarannya, hingga berbagai perasaan terdalam mereka terhadap satu sama lain.
Namun, salah satu sisi yang paling berbekas bagi saya adalah part “We Call It Twin Curse” (hal. 141). Hampir semua judul sub-bagian cerita di part ini ada kata “dibandingkan”. Ternyata salah satu hal yang paling sulit yang dialami oleh saudara kembar adalah sikap lingkungan sekitar yang selalu membandingkan. Mereka sulit menjadi individu tunggal yang tidak disangkutpautkan dengan kembaran mereka. Mereka dinilai dengan kacamata perbandingan. Dan ini akan terus terjadi seumur hidup mereka. Karena di masyarakat Indonesia entah kenapa sudah jadi kelaziman untuk menilai saudara kembar dengan tolak ukur perbandingan.
 Entah Mbak Eva dan Mbak Evi ini butuh waktu berapa lama untuk berdamai dengan kenyataan bahwa dengan memiliki saudara kembar, maka mereka akan selalu “ditaksir” dari berbagai segi. Dinilai melalui pertanyaan, “Pintar mana, Eva atau Evi?”; “Cantik mana, Eva atau Evi?”; dan pertanyaan-pertanyaan lain semacam itu. Secara psikologis ini tentu mempengaruhi mereka. Entah membuat mereka harus “terpaksa” bersaing, atau bahkan jadi saling melukai.
Ah, jadi ingat dengan buku Love Puzzle karya Mbak Eva yang menjadikan hal ini sebagai salah satu konflik ceritanya. Hm, dibandingkan dengan teman saja cukup bikin sakit hati. Dibandingkan sama kakak atau adik juga bikin kesal. Apalagi dibandingkan dengan saudara kembar sendiri? (>_<)
***
Sejujurnya saya orang yang cukup terlambat menyadari  Mbak Eva dan Mbak Evi itu bersaudara kembar. Saya akhirnya ngeh setelah membaca CineUs karya Mbak Evi. Padahal karya mbak-mbak kembar ini yang paling pertama saya kenal adalah Dunia Trisa-nya Mbak Eva.
Membaca buku TwiRies ini bikin saya harus mengaku sebagai orang sejuta kesekian yang mengajukan Silly Question, khususnya pertanyaan no.4 tentang siapa yang kakak (hal. 63) (>_<). *sila cek interview saya dengan Eva dan Evi di blogpost ini*
Oiya, tentag buku ini pun sebenarnya sudah pernah dibocorkan oleh Mbak Eva dan Evi saat interview tersebut. Mereka menyebutnya Twins Project. Makanya saat bukunya launching, saya pun sangat semangat menghadiri acara launchingnya yang diadakan di Lacamera Cafe.

sempat narsis bersama Mbak Evi & Mbak Eva saat launcing
Buku Twiries ini kemudian saya pilih sebagai teman mudik. Saya sempat membawanya ke Bekasi dulu sebelum ke Makassar. Saat asyik membaca sebelum tidur, adik sepupu saya mendadak bertanya. “Pasti lucu ya punya saudara kembar.” Mendengarnya, saya langsung menaikkan alis dan bertanya kenapa. Ia lantas memperlihatkan foto anak kembar cowok-cewek dengan kulit putih, pipi tembem, dan mata sipit. Lucu (>_<). Saya lantas menjawab, ”Di tas kakak ada buku soal anak kembar. Baca aja dulu,”. Tidak lama dia tertawa-tawa sendiri membacanya. Ternyata komik di dalam buku baginya terasa sangat menghibur. Memang dia lebih suka baca komik daripada buku cerita.

TwiRies yang ikut mudik
Buku ini pun saya ajak serta mudik ke Majene, Sulawesi Barat. Saat selesai membaca buku ini, saya pun mencoba menulis review tentang buku ini. Mama saya yang tanpa sengaja melihat aktivitas saya pun bertanya. Ia bingung saat saya menyampaikan bahwa saya sedang menulis resensi buku. Lebih heran saat ia dengar saya meresensi buku tentang anak kembar. Mama dengan asal nyeletuk, “Ngapain baca soal anak kembar. Pacar kamu punya saudara kembar?” mendengar komentar itu saya pun bengong. Heh? Kok pikirannya ke arah sana? Setelah itu, mama dengan santainya meninggalkan saya yang terpana. Hah, tuduhannya sangat tak berdasar. *mendadak galau*
Belakangan saya tahu komentar mama muncul karena saat itu mama sambil iseng membolak-balik halaman buku dan tanpa sengaja membaca bagian Tips Menggebet dan Mempunyai Pacar Anak Kembar (>_<)
Ternyata tahun ini saya tidak salah memilih teman mudik (^_^)v

Terima kasih sudah sharing tentang dunia si kembar ya, Mbak Eva & Mbak Evi. Saya tunggu karya berikutnya baik solo maupun twins project lainnya (^_^)

http://bit.ly/GA2TwiRies

http://www.smartfren.com/ina/slide-detail/7201112013092452/

7 komentar:

  1. aaaah, asiik sempat foto bareng teteh kembar, hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. Iya, ikut datang ke launching bukunya (^_^)

      Hapus
  2. Teh Atria datang ke launchingnya? Huaaaaaa, tahu ada temen aku juga dateng. Yah, kalau sendiri mah udah pasti gak dibolehin X))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..kayaknya aku ngomong deh di group angkoters (>_<)
      lain kali aku kabarin yah kalo mau ikutan launching buku :D

      Hapus
  3. wahh, asik bgt bisa fotbar sama teteh kembar:D
    oiya, mampir ke blogku juga ya.. mohon komentarnya!^^ http://magicalsalma.blogspot.com/2014/07/sharing-your-moment-with-twiries-apa.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..iya.. ada serunya ikutan acara launching buku (^_^)

      Hapus
  4. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam "Sharing Moment with TwiRies" ^_^

    BalasHapus