Sabtu, 27 September 2014

Mencintaimu Selalu Indah




Penulis: Aster Putih
Cover Designer: Tarompey
Layout: Asiyah_Asmarani
Editor: Geulis C.G
Penerbit: Rumah Oranye
Cetakan: I, 2014
Jumlah hal.: 180 halaman
ISBN: 978-602-1588-61-1

Cinta adalah keelokan rasa yang sangat mahal harganya, ia selalu datang dengan kesuciannya. Mencintai adalah memberi tanpa pamrih, tiada tepi dan tak mengharap kembali.

Sejatinya cinta adalah kedamaian dan kebahagiaan yang tercipta karena ketulusan yang dia bawa. Apabila cinta memanggilmu, bergegaslah datang kepadanya. Meski jarak yang harus ditempuh terbentang lautan yang tak berujung. Dan ketika cinta memahkotaimu maka junjung ia dengan segenap penyerahan jiwa.

***
Buku ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek. Terdapat 6 cerita pendek yang semuanya membahas tentang cinta. Tema umumnya boleh saja sama, namun jenis-jenis cinta yang diangkat berbeda.

Dalam cerita Cinta Sang Pendongeng, penulis bercerita tentang kisah H.C Andersen yang menginspirasi tokoh utama untuk menjadikan patah hatinya sebagai sumber inspirasi sehingga ia bisa menghasilkan karya. Sebab dari cerita sang kakak ia mengetahui bahwa H.C Andersen yang patah hati malah berhasil membuat karya yang dikenang sepanjang masa.

Cerpen kedua yang berjudul Salahkah Aku Mencintaimu? Mengambil setting dunia kerja. Tokoh utama yang jatuh cinta dan berbunga-bunga sendiri karena naksir Sang Bos yang ternyata sudah punya pujaan hati.
Cerpen berjudul Kesetiaan Juned lain lagi ceritanya. Dikisahkah tentang Juned, cowok yang jatuh cinta setengah mati pada Gina. Juned yang polos dan baik hati jatuh cinta pada Gina yang populer. Bahkan setelah dicampakkan oleh Gina pun cinta Juned tidak hilang. Ia bahkan bak lagu “kutunggu jandamu” setia menunggu Gina yang sudah berkeluarga. 

Cerita Cinta di Ujung Sesal mengingatkan saya pada karya Habiburrahman El-Shirazy yang berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra. Namun kali ini tokoh utamanya perempuan. Eta yang karena sakit hati pada mantan tunangannya, Riza, akhirnya mau menerima pinangan Ponco. Sayangnya, Eta tetap mengabaikan Ponco meskipun sudah berstatus sebagai istri. Hingga akhirnya Ponco pun meninggalkan Eta untuk selamanya.

Cerita terakhir berjudul Cinta Salah Tempat. Berkisah tentang kasih yang  tak sampai. Yah cerita tentang “Kalo jodoh nggak akan kemana. Kalo gak jodoh? Ya gitu deh”. Tentang Niar yang mencintai Hanung namun harus menikah dengan Iwan. Niar tetap tidak bisa berhenti mencari kabar tentang Hanung meskipun sudah memiliki suami sebaik Iwan.

***

Mencicipi karya dari penulis dan penerbit baru memang penuh resiko. Kesenangan saya membeli buku secara random untuk kemudian direview memberi petualangan tersendiri. Terkadang jika beruntung saya akan menemukan karya bagus dari penulis yang belum begitu terkenal atau penulis yang belum saya kenal. Namun jika sedang apes, ya saya harus mengikhlaskan uang  yang sudah dipakai untuk membeli sebuah karya yang menurut saya belum layak terbit.

Sejujurnya, sejak membaca cerpen pertama saya merasa terganggu dengan tulisan Aster Putih ini. Cerpennya, 80% berisi dialog!! (>_<) dan itu membosankan. Kesannya ingin memenuhi targetan halaman. Padahal sebenarnya kisah tentang H.C Andersen sebagai inspirasi ini cukup menarik.

Begitupun dengan karya-karya lainnya. Plot cerita menurut saya menarik. Namun terlalu kompleks untuk menjadi sebuah cerpen saja. Contohnya cerpen Cinta di Ujung Sesal ini punya dua konflik cerita yakni Eta dan Riza serta Eta dan Ponco. Ini terlalu padat untuk sekedar menjadi sebuah cerpen.

Hm..saya rasa, ide-ide Aster Putih pada dasarnya menarik. Namun eksekusinya masih kurang bagus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar