Selasa, 02 September 2014

Selamatkan Bosscha!




Editor: Rahmat Jabaril
Perancang Sampul: Terra Brajaghosa
Kompugrafi: meja malam design
Penerbit: Resist Book
Cetakan: Pertama, Januari 2007
Jumlah. Hal: xxvi + 164 halaman
ISBN: 979-1097-34-8

Sebenarnya persoalan yang menjerat pendidikan tidak hanya ongkosnya yang kian membumbung, melainkan juga kualitasnya yang sungguh memprihatinkan. Tidak hanya kurikulum yang acap berganti, melainkan metode pengajaran yang semata mengandalkan pada penghapalan atau sistem bank. Alih-alin “membebaskan”, metode pendidikan macam itu malah membodohi murid, menumpulkan daya kritis dan mengkerdilkan daya kreatif. Menjawab persoalan-persoalan itu, sebuah metode pendidikan alternatif ditawarkan. Dalam konsep itu, murid tidak hanya duduk tenang di balik meja dan dicekoki dengan segala macam pelajaran yang membuat mereka menjadi dalam istilah Romo Mangunbeo-beo hapalan, tapi langsung dihadapkan pada persoalan-persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya. Buku ini  merupakan catatan-catatan kritis anak-anak, hasil dari penerapan metode belajar mengajar yang mengedepankan konsep aksesibilitas tersebut.Persoalan di lingkungn sekitar mereka yang diangkat adalah Observatorium Bosscha yang saat ini nasibnya sama dengan para PKL, tengah menghadapi ancaman tergusur oleh pembangunan yang kapitalistik.

Cara penanggulangan agar Bosscha tetap ada adalah dengan cara: tidak membangun gedung-gedung besar misalnya hotel, tidam membangun pabrik-pabrik dan agar melarang kendaraan-kendaraan besar melintas di area Observatorium Bosscha.
Rahma (SD Pelesiran II)

...Tidak mengherankan apabila setingkat itu, anak-anak itu bisa melihat kerusakan lingkungan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Negara
Rahmat Jabaril (Komunitas Taboo)

***

Ketika bercerita tentang ilmu, maka sesungguhnya semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah. Usia seseorang yang lebih muda tidak berarti tidak ada apapun yang bisa kita pelajari darinya. Karena pada dasarnya cara seseorang memandang sesuatu bisa saja unik. Apatah lagi anak-anak. Mereka memandang sesuatu berdasarkan rasa ingin tahu dan kepolosan. Belum banyak perasaan skeptis dan kecewa yang mereka kecap hingga mengkerdilkan optimisme mereka.

Hal inilah yang akan ditemukan saat membaca buku Selamatkan Bossha! ini. Dalam buku ini kita disuguhi tentang bagaimana anak-anak mengolah informasi yang mereka dapatkan kemudian mencoba mentransfernya menjadi sebuah tulisan. Dengan gaya bahasa khas kanak-kanak mereka mencoba menceritakan tentang apa yang mereka dapatkan dalam kunjungan mereka ke Observatorium Bosscha. Tata bahasa yang berantakan tidak lantas membuat penuturan mereka sulit dipahami. Sebaliknya menjadi sebuah kelucuan tersendiri.


Sejujurnya ada rasa kagum yang terbesit. Anak-anak SD ini bisa membuat tulisan yang sebenarnya cukup serius dan mengandung banyak informasi. Dari tulisannya ada beberapa anak-anak yang mencari informasi lebih lengkap sehingga tulisannya menjadi terasa cukup serius. Dengan itu terlihat bahwa ada kesungguhan di sana. Kesungguhan untuk memberi informasi yang akan bermanfaat bagi yang belum mengetahui.

Sebagian besar tulisan menjabarkan tentang apa yang mereka lihat dan pelajari di Bosscha, seperti tahun pembuatan Obs. Bosscha dan nama dan jenis-jenis teleskop yang ada di tempat tersebut. Ada pula yang memberi informasi lengkap tentang planet-planet yang ada di tata surya. Menariknya, Rayhan M siswa kelas V SD Al-Azhar 24 Bandung menuliskan tentang bintang, nebula, supernova, dan black hole. Ini jelas berbeda dengan saya saat SD, informasi semacam itu masih sangat asing untuk saya.

Selain itu, mencermati gaya penulisan mereka pun menjadi kesenangan tersendiri. Sebagian besar mencoba membagi informasi tentang Bosscha serta cara menyelamatkan Bosscha. Beberapa cara tersebut adalah dengan tidak membangun pemukiman atau gedung-gedung besar di dekat Bosscha, ikut menjaga kelestarian hutan dan pohon di lingkungan Bosscha. Ada pula ide yang meminta pemerintah agar membuat tour gratis ke Observatorium Bosscha agar semakin banyak orang yang tahu pentingnya menjaga Bosscha. Ide ini tuliskan oleh Diasy Fadillah Usman, siswi kelas V dari SD Muhammadiyah 7. Tulisan anak ini pun cukup manis, ia mendeskripsikan dengan baik perjalanannya ke Observatorium Bosscha. Ia membuka ceritanya dengan kalimat berikut:

“Shubuh menjelang. Suara adzan yang terdengar menandakan bahwa sang fajar akan menampakkan dirinya. Hari ini aku akan pergi mengikuti lomba menulis di Bosscha. Menjelang pagi hari aku pergi dengan tasku sendiri dengan diantar pamanku. ...” (hal. 76)

Wah, sebuah deskripsi yang menarik untuk anak seumurnya. Diksi anak-anak SD yang tulisannya terangkum dalam buku ini memang sangat baik. 

Selain tulisan, ada juga sejumlah gambar karya anak-anak SD yang mengikuti kunjungan yang sama. Sayangnya karena berwarna hitam putih,  gambar tersebut menjadi kurang menarik dilihat. Namun di luar kekurangannya, saya ingin memberikan apresiasi atas editor dan semua pihak yang menggagas terbitnya buku ini. Sebab selain menjadi pendorong bagi anak-anak untuk berani menulis, juga ikut membantu mengkampanyekan upaya menyelamatkan Bosscha.

Memang, saat ini dibutuhkan lebih banyak lagi orang-orang yang peduli dan mau melakukan sesuatu untuk menjaga Observatorium Bosscha. Seharusnya Bosscha menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan mendapatkan perhatian yang besar. Bosscha tidak hanya berfungsi sebagai observatorium tempat mengamati benda-benda langit. Di Bosscha juga kita bisa belajar tentang sejarah Indonesia, ke-filantropi-an seorang KAR Bosscha –pendiri Obs.Bosscha-, serta belajar tentang alam dengan beragamanya tumbuhan yang tumbuh di sekitar Bosscha.

Yuk Selamatkan Bosscha!  (^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar