Jumat, 17 Oktober 2014

Sweet Home



“Kau masih sangat muda, Emily. Mencintai satu lelaki dalam hidup adalah perbuatan paling sia-sia, dan tidak akan kubiarkan kau melakukannya” (hal. 48)



Penulis: Adeliany Azfar
Penyunting: Yuli Yono
Design Cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Proofreader: Dini Novita Sari
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Jumlah hal.: 360 halaman
ISBN: 978-6027742413

Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.
Matthew Coper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka.
Sementara Marion-Mary-Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.

Saat Emily menyangka kehidupan tidak bisa lebih buruk lagi, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang mestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!

Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.
Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?

***

Membaca cerita ini akan membuat kenangan masa SMA kembali dipanggil di kepala. Memutarnya bak sebuah layar tancap. Menghadirkan kisah kebimbangan dan juga cerita patah hati. Ya, Emily mengalami patah hati pertamanya dengan kekasih pertamanya yang juga sahabatnya sejak kecilnya, Matthew.

Pengalaman patah hatinya ini menjadi semakin berat sebab sahabat baiknya Mary harus ikut bersama orang tuanya pindah ke Calabasas. Rasa kehilangannya atas Mary sangat terasa sebab selama ini Mary yang tinggal di sebelah rumahnya selalu bisa ia jadikan tempat curahan hati kapan saja. Dan kini saat hatinya dirundung duka karena Matt, Emily tidak bisa mengunjungi sahabatnya itu.

Masalah kian runyam saat kamar yang selama ini di tempati Mary dihuni oleh Tyler yang akrab disapa Ty. Ty yang selalu mencampuri urusan Emily membuat gadis itu sering kali tersengat kesal. Terutama saat Ty menunjukkan minat yang terlalu besar pada urusan patah hati Emily. Juga saat Ty yang malah memperkeruh suasana antara Matt dan Emily. *Kalo jadi Emily, pasti Ty udah saya timpuk pakai buku...hm..tapi sayang sih bukunya*

Tapi lama kelamaan saya malah dibuat jatuh cinta pada sosok Tyler. Ty ini memang urakan, tapi juga perhatian. Dia senang berbuat onar, namun ternyata itu bukan tanpa alasan. Selain itu, rasanya hidup akan jadi berwarna jika punya teman seperti Ty. Yang hidup mengkuti kata hati dan selalu menjadi teman berdebat yang menyebalkan. Ha..ha.. lebih mudah jatuh cinta pada laki-laki yang  punya sikap dan pendapat pribadi daripada pria yang selalu menuruti keinginan kita. *hm...ini pendapat pribadi aja sih :D silahkan diabaikan*


Trus rasanya yah ingin menjitak kepala Emily yang masih galau dan masih mengharapkan Matt. Lagian yah, kalau begitu dirinya sadar nggak punya teman, kenapa harus takut membuat simpul pertemanan baru sih?! *ok, saya memang tipe perempuan perkasa*

Hm..intinya sih kisah hidup Emily dalam novel itu sangat remaja. Tapi yang perlu saya acungi jempol adalah karakter Emily yang tidak dibuat terlalu cengeng. Emily yang orang tuanya sudah berpisah tidak membiarkan dirinya mendramatisir kondisi dengan sibuk menyesali kondisi. Padahal bisa saja kan, saat galau dan menyesali putusnya hubungan dia dengan Matt serta pindahnya Mary bisa ikut membawa perasaan-perasaan mellow bahwa rasanya semakin berat karena tidak ada ibu yang bisa ia tempati bercerita. Ia yang hanya tinggal dengan neneknya dan tinggal terpisah dari ibu-ayah yang bercerai bisa saja mempersalahkan keadaan. Merasa sendirian karena tidak ada teman bercerita. Tapi syukurlah di sini ini Emily digambarkan sebagai remaja yang tegar. Ia berusaha menghadapi masalahnya sendirian.

***

Novel Sweet Home benar-benar sangat remaja. Konflik yang diangkat sangat remaja banget, tentang ketertarikan pada lawan jenis, tentang keluarga, tentang persahabatan, dan tentang menghadapi masalah.

Tokoh di dalam novel ini juga dinamis. Mereka berkembang bersama masalah-masalahnya. Terutama pada sosok Emily. Melaui Emily kita akan melihat satu contoh remaja yang tengah belajar dewasa. Belajar menerima kondisi. Belajar mengambil keputusan menghadapi konsekuensinya. Serta belajar menghadapi masalah sendirian. 

Buku ini bisa jadi bacaan yang bagus untuk remaja (^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar