Jumat, 07 November 2014

Cinta Sehangat Pagi



“Orang sering menyalahkan cinta atau kecocokan. Pada kenyataannya, manusia memang tidak akan pernah cocok satu sama lain dengan sempurna, kok! Pasti ada saja perbedaan di sana-sini yang harus diatasi. Tapi, dengan cinta semua perbedaan itu mudah dijembatani. Namun, saat cinta sudah hilang, perbedaan kecil pun bisa menjadi perang dahsyat.” (hal. 8)


Penulis: Aimee Karenina
Editor: Donna Widjajanto
Desain Sampul: Suprianto
Tata Letak Isi: Shinzy & Fajarianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 211 halaman
ISBN: 978-602-03-0924-8

Mengimamimu adalah mimpi terbesarku.
Bagi Nino, Selma adalah pelabuhan terakhirnya. Dia bahkan bersedia melanggar sumpahnya untuk tidak berpacaran sebelum menikah, ketika bertemu Selma. Sayangnya, walau didesak bagaimanapun, Selma tidak mau buru-buru menikah.

Dia mengajakku menikah sebulan sekali.
Aku bahkan sulit percaya kalau dia serius!
Bagi Selma, Nino adalah pria sempurna – blasteran Spanyol, aktivis lingkungan yang cerdas, dan gentleman yang alim. Tapi, yang diinginkan Selma bukanlah pernikahan, melainkan karier yang cemerlang.

AKU BISA MENGORBANKAN SEGALANYA DEMI DIA.
AKU TAHU BAGAIMANA CARA MENCINTAI.

Saat bermain tarik-ulur dalam hubungan mereka, Nino dan Selma tidak menyadari ada pihak lain yang menyelinap datang dengan obsesi siap menghancurkan tali kasih yang rapuh ini. akankah Nino dan Selma teguh bersatu, atau malah mengalah pada permainan takdir?

***

Berbicara tentang komitmen, biasanya yang takut untuk cepat terikat dalam pernikahan adalah pihak laki-laki. Namun kali ini berbeda. Dalam novel Cinta Sehangat Pagi, sejak kalimat pertama, yang terlihat adalah tokoh perempuan yang belum ingin menikah. Meskipun usianya sudah sangat cukup matang, 26 tahun.

Selma, perempuan yang melihat bahwa dalam lingkungan keluarganya penuh dengan perempuan-perempuan hebat. Perempuan yang sukses dalam berkarier tanpa mengabaikan keluarganya. Selma merasa bahwa kariernya belum sehebat ibunya atau tantenya, sehingga ia pun masih ingin fokus mengembangkan karier dan menampik ajakan menikah dari Nino, kekasihnya selama 8 bulan terakhir.

Sebaliknya, Nino menganggap bahwa pacaran selama 8 bulan sudah lebih dari cukup. Ia sudah sangat yakin dengan pilihannya. Itu sebabnya ia berkali-kali melamar Selma. Bahkan sejak sebulan usia pacaran mereka.
Setipa kali Nino melamar Selma yang terjadi adalah penolakan. Uniknya Nino bahkan tidak mundur. Begitupun Selma. Ia hanya merasa kesal namun enggan melepaskan Nino.

Di tengah situasi itu, muncul pihak-pihak lain yang mengancam keutuhan hubungan Selma dan Nino. Bahkan perlahan muncul sebuah teror yang membuat salah satu dari mereka harus memilih. Melanjutkan ataukah meninggalkan hubungan tersebut demi kebaikan semua pihak.

***

Blurb buku ini cukup menggugah. Begitu pun dengan sampulnya.

Namun menariknya, saat selesai membaca buku ini saya merasa bahwa novel ini cukup berbeda. Memang tidak sesuai dengan label MetroPop dan Amore. Lebih menarik menyebutnya dengan “punya warna Islami”.
Dalam karya Aimee ini, diceritakan tentang Nino yang karena pemahamannya yang cukup baik tentang Islam, membuatnya berprinsip untuk tidak pacaran. Namun sayangnya karena tidak ingin Selma diraih oleh lelaki lain sedangkan Selma belum ingin menikah, akhirnya ia pun melonggarkan prinsipnya. Ia mengajak Selma pacaran namun menekankan tentang tidak adanya interaksi fisik di antara mereka.

Konflik yang ditawarkan pun jadi menarik. Tidak hanya tentang hubungan yang unik antara Nino dan Selma. Namun ada juga ketegangan yang ditawarkan dengan hadirnya pihak luar yang meneror Selma. Bahkan cenderung mengincar nyawa perempuan itu. Sosok ini membuat pembaca sibuk menebak-nebak siapa gerangan pelakunya? Karena dibeberapa bagian penulis menuangkan cerita dalam sudut pandang sang pelaku. 

Dari segi penokohan. Karakter Selma benar-benar tampil dinamis. Ia berkembang bersama konflik dalam cerita. Bahkan proses dari Selma yang tanpa hijab hingga keputusannya untuk berhijab pun menarik diikuti. Tokoh Dija, adik Selma, yang juga mendapat porsi cukup besar dalam cerita rasanya menarik dan jadi punya peran yang cukup penting. Memperkaya karakter cerita.

Sayangnya, tokoh Nino yang ditampilkan terlalu sempurna. Penampilan yang terlalu menarik, karakter pria idaman dan masa depan yang mapan membuat sosok ini jadi to good to be true

Salah satu nilai plus novel ini adalah adanya ilmu baru yang saya temukan. Yakni tentang pseudocysis. Kalau bukan dari novel ini, butuh pemicu lain yang entah kapan yang membuat saya tahu tentang hal ini.

Secara keseluruhan saya suka dengan ceritanya. Ada nilai Islami di sana namun tanpa kesan menggurui. Sangat jarang saya temukan dalam novel yang tidak dilabeli Islami tokohnya digambarkan melaksanakan shalat.

Cerita yang manis Mbak Aimee Karenina meskipun juga menawarkan sensasi rasa tegang dan penasaran.  Tetap saja manisnya hubungan Selma dan Nino tetap terasa (^_^)v


“Aku memang bukan cermin perempuan yang taat beragama. Aku masih mengabaikan perintah untuk menutup aurat. Tapi, apakah itu berarti kamu lebih baik dibanding aku? Aku menjadi sungguh-sungguh ingin tahu, apakah jika seorang berhijab lantas boleh seenaknya melontarkan perkataan yang bisa menyakiti hati orang lain? Apakah hijab itu lantas menjadikanmu kebal dari segala dosa?” (hal. 52)
puisi yang terinspirasi novel Cinta Sehangat Pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar