Kamis, 13 November 2014

Fangirl



“...ketika kau menyadari ada seorang cowok yang menatapmu dengan pandangan berbeda- bahwa kau memenuhi lebih banyak tempat di bidang pandangannya. Saat itulah ketika kau tahu dia tidak bisa melihat hal lain selain dirimu lagi.” (hal. 41)

Penulis: Rainbow Rowell
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penyunting: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Design Cover: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Ilustrasi isi: @teguhra
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, November 2014
Jumlah hal.: 456 halaman
ISBN: 978-602-71505-0-8

Cath dan Wren –saudari kembarnya- adalah penggemar Simon Snow.
Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu.
Namun, Cath bukan sekedar fan. Simon Snow adalah hidupnya!
Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.
Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya!
Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.
Seolah dunia belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil.
Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

***

“Jangan buang waktuku dengan permintaan maaf, Simon. Kalau kita berhenti meminta maaf dan saling memaafkan setiap kali kita saling menyakiti, kita tidak akan pernah punya kesempatan untuk menjadi teman.” (hal. 189)

Masuk ke universitas adalah salah satu fase kehidupan yang cukup terasa perubahannya. Perubahan yang cukup ekstrim bisa saja terjadi di fase ini. Tidak pernah ada yang bisa menduga hal baru apa yang akan dihadapinya. Dan tidak semua orang mampu meng-handle perubahan ini dengan baik.

Ini salah satu hal yang saya tangkap saat membaca novel Fangirl. Kisah Cath yang tergambarkan sebagai sosok yang takut menghadapi hal-hal baru dalam hidupnya ternyata menarik untuk diikuti. Cath dan Wren bisa saja adalah saudara kembar, namun karakter mereka dan cara mereka menanggapi berbagai hal di sekitar mereka cukup berbeda.

Cath adalah perempuan yang lebih menyukai kestabilan dan rutinitas. Baginya, tidak mudah menemukan teman baru dan beradaptasi di sebuah tempat dan situasi yang baru. Sebaliknya, bagi Wren selalu ada stok keberanian dan rasa ingin tahu yang cukup besar untuk membuatnya berani menghadapi hal-hal baru dalam kehidupan kampus.

Tapi cerita ini bukan tentang kisah anak kembar. Tapi kisah seorang perempuan yang hidupnya banyak ia curahkan pada fanfiksi. Cath, perempuan yang lebih suka menyepi di kamar asramanya dibandingkan menghabiskan waktu ke pesta-pesta seperti yang dilakukan oleh saudarinya. Ia mengambil pilihan yang aman. Namun ternyata pilihan itupun tidak bisa dikatakan aman.


Pilihan-pilihannya untuk menjadi orang yang pasif dan jadi anti sosial karena ketakutannya itu malah membuat banyak hal menjadi runyam. Ia tidak lagi “mengenali” saudari kembarnya mereka bahkan tidak lagi bercakap-cakap seperti dulu. Ia dimanipulasi oleh orang lain. Selain itu ia mendapatkan teman sekamar, Reagan, yang punya perangai aneh. Dan kemudian ia malah jatuh cinta Levi, kekasih Reagan. 

Puncaknya Cath merasa terhimpit oleh kehidupan saat ia gagal dalam tugas akhirnya di kelas Penulisan Fiksi yang sangat disukainya. Professor yang mengajar di kelas tersebut menunjukkan kekecewaan padanya dan pada kesenangannya menulis Fanfiksi. Lantas apa lagi yang tersisa?

Ternyata keadaan masih bisa menjadi lebih buruk. Saat ayah Cath sakit dan dirawat di rumah sakit jiwa. Yup, rumah sakit jiwa, Cath seolah diberi jalan keluar untuk pulang dan meninggalkan kehidupan kampus yang tidak bisa ia nikmati.

Namun dititik itu pun Cath didorong oleh sang Ayah untuk mengeluarkan keberaniannya. Setelah itu? Satu persatu semua hal berjalan lebih baik.


“Menulis itu sepi.” (hal. 212)

 ***

 “Hidup bahagia selamanya, atau bahkan hanya bersama selamanya, bukanlah murahan. Itu adalah hal paling mulia, seperti hal yang paling berani yang bisa dicapai oleh dua orang.” (hal. 406)

Banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca Fangirl terbitan Penerbit Spring ini. Salah satunya saya jadi lebih tahu perasaan dan pikiran para penulis FanFiction yang selama ini tidak pernah saya anggap menarik. Meski tetap saja tidak tertarik membaca novel-novel FanFiction karena yakin tidak akan bisa mengerti. He..he..

Selain itu ada juga hal menarik lain yang bermanfaatn bagi yang ingin menjadi penulis. Aada sejumlah part di dalam buku Fangirl yang bisa menjadi inspirasi dan pendorong semangat untuk berani menulis, menikmati kegiatan menulis, dan berusaha mengakhirinya. Seperti penurutan Profesor Piper di kelas Penulisan Fiksi.


“Aku tahu bagaimana rasanya kalau benak kita teralihkan. Mencari pengalihan. Membuat lelah diri kalian dengan melakukan hal kecil yang lain daripada menghadapi halaman kosong. .... mulailah sekarang. Kunci diri kalian jauh dari dunia. Matikan internet, halangi pintunya. Menulislah seolah nyawa kalian tergantung pada itu.” (hal. 218)

Pesan Profesor Piper ini jelas sangat menohok. Bagaimana internet jika tidak mampu dihadapi dengan baik malah menjadi hambatan dalam proses kreatif, proses menulis. Pikiran Cath dihalaman 444 saat membiarkan dirinya menulis dan terus menulis pun bisa menjadi saran yang baik untuk membiarkan diri tenggelam dalam tulisan tanpa berpikir untuk mengeditnya dulu. Intinya adalah menulis hingga runtutan kata-kata itu habis dan terhenti. Setelah itu baru mengeditnya.

Selain tips dan trik menulis yang tercecer di beberapa part buku ini, hal menarik lainnya adalah bagaimana Rainbow Rowell berhasil membuat buku tentang Simon Snow seolah benar-benar ada. Saat dengan iseng mengecek “Simon Snow” di google, ternyata banyak hal yang melakukan hal yang sama dan memprotes tentang tidak adanya novel Simon Snow. Ha..ha.. Good job Rainbow Rowell.

Tapi sayangnya, ada pula masa saat cara bertutur jadi terlalu bosan diikuti. Ada deskripsi-deskripsi personal Cath tentang suata hal atau tentang perasaannya yang rasanya kurang mengalir. Entah karena saya membaca terjemahan atau hal lainnya. Terutama dibagian awal-awal cerita, rasanya kehidupan Cath terlalu biasa untuk diperhatikan.

Selain itu, layout dalam buku agak menyusahkan mata karena agak rapat. Dengan tebal 456 halaman, dan layout seperti itu cukup membuat mata lelah. Selain itu layout antara kisah kehidupan Cath dengan kisah Simon Snow yang dituliskan atau dibacakan oleh Cath kadang tidak bisa saya bedakan dengan jelas.

Oiya, dan satu hal yang cukup mengganggu saya adalah tidak disebutkannya rate buku ini. Buku ini lebih cocok digolongkan sebagai novel Young Adult daripada remaja. Sebab secara kebudayaan hidup Cath berbeda dengan pembaca remaja di Indonesia. Tinggal bersama dengan pacar? Nginap di rumah pacar? Hm.. agak membuat saya gelisah.

Hm..secara keseluruhan Fangirl memang menarik. Paket lengkap. Kisah cinta ada, kisah persaudaraan dan persahabatan ada, drama keluarga juga ada (^_^)v

Puisi yang terinspirasi kisah Cath dalam Fangirl

“Bukankah pembalasan dendam terbaik seharusnya adalah hidup yang dijalani dengan baik?” (Hal. 406)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar