Sabtu, 01 November 2014

Gerbang Trinil



“..., seharusnya kita tidak menjadi predator satu sama lain. Kehidupan yang telah kami lampaui membuat kami seharusnya banyak belajar.” (hal. 236)



Penulis: Riawani Elyta & Syila Fatar
Penyunting: Dyah Utami
Penyelaras akhir: Dedik Priyanto
Perancang sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrator: Fahmi Fauzi
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: vi + 296 halaman
ISBN: 979-795-874-4
Ia datang untuk mengungkap masa lalu.

Areta bukanlah gadis biasa.
Ia terobsesi pada fosil manusia purba Pithecanthropus erectus hingga suatu hari ia menemukan bahwa manusia purba itu belum punah.

Hanya untuk menemukan....

Penyelidikan Areta membawanya ke Trinil, Jawa Timur. Ia berusaha mencari kebenaran dan mengungkapkan rahasia yang disimpan neneknya. Namun rasa ingin tahu justru membawanya pada petualangan yang paling berbahaya.

Bahwa mereka datang untuk menghancurkan masa depan.

Bangsa Pithe bukan hanya kembali ke bumi. Mereka datang dengan misi untuk menguasai bumi dan menciptakan generasi baru di bumi, meski untuk itu manusia harus tersingkir dan punah.
Areta tak punya pilihan lain kecuali berjuang mati-matian. Karena sekarang, ini bukan hanya tentang nyawanya.
Ini tentang masa depan planet bumi.

***

Alkisah, ada seorang remaja perempuan yang memiliki kegilaan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Saat remaja lain sibuk dengan dilema tentang cinta, idola, sekolah dan hal-hal semacam itu, gadis itu malah terobsesi pada tulang. Lebih tepatnya fosil, khususnya lagi fosil manusia purba Pithecanthropus erectus.

Ketertarikannya kian berkembang saat berhasil mengenal salah seorang keturunan Eugene Dubois yang bernama Harry Dubois. Areta jadi mengetahui lebih banyak perkembangan tentang penelitian terkait Pithecanthropus erectus. Hingga muncullah sebuah hasil penelitian dari ayah Harry yang menyampaikan bahwa Pithecanthropus erectus adalah alien. Ini karena ada temuan tengkorak bayi Pithecanthropus erectus yang usianya masih belum cukup tua.

Dan demi menjawab penasaran itu, Areta datang ke rumah neneknya di Trinil. Hubungan orang tuanya dengan sang nenek yang notabene adalah ibu dari ayah Areta sebenarnya cukup buruk. Orang tua Areta sendiri menentang keinginan gadis itu berlibur ke rumah neneknya. Namun dengan keras kepala Areta menolak mendengar larangan tersebut. Dan kelak dari sanalah semua bermula.

Areta mendapati bahwa neneknya menjadi salah satu kunci yang menghubungkan Areta dengan dunia para Pithecanthropus erectus. Neneknyalah yang menjaga gerbang yang menghubungkan bumi dengan negeri Pithe, sebutan Areta bagi sosok yang menculiknya. Ya, Areta dibawa oleh sebuah sosok yang secara fisik mirip dengan sosok rekaan Pithecanthropus erectus yang dibuat oleh para ilmuwan berdasarkan struktur tulang yang mereka temukan. Oleh makhluk tersebut, Areta dibawa ke sebuah dimensi yang lain di dalamnya penuh dengan sosok Pithe. Ternyata yang membawa Areta adalah raja Pithe yang bernama Blark. Di negeri inilah petualangan Areta menarik diikuti. Teknologi para Pithe ini digambarkan sangat modern. Jauh melampaui teknologi yang berhasil dikembangkan manusia. Namun di sana, Areta juga mendapati bahwa bangsa Pithe ini tengah merencanakan berbagai hal besar yang bisa menghancurkan umat manusia. Selain itu, Areta mendapati bahwa para Pithe bertahan hidup dari Nera yang mereka ambil dari tubuh manusia. Areta membayangkan ada berapa banyak manusia yang telah mereka ambil Nera-nya.

Setelah itu pertarungan Areta berlajut. Ia harus melakukan pelarian yang berbahaya dan membawa serta semua perempuan yang juga diculik seperti dirinya.

***

Kali ini saya kembali mencicipi genre baru. Seingat saya ini adalah buku pertama bergenre science fiction yang saya review di buku ini. Dan serunya adalah saya membaca karya putri-putri Indonesia #tsaaahh. Dan lebih menarik lagi cerita ini karena dihubungkan dengan sejarah manusia purba di Indonesia.

Selain itu, deskripsi yang dibuat dalam menggambarkan kehidupan dan teknologi yang dimiliki oleh bangsa Pithe pun terdeskripsi dengan jelas tanpa sempat membuat bosan. Ide tentang  keberadaan Nera sebagai sebuah analogi yang secara jelas menunjukkan nilai kehidupan bahwa kita pada dasarnya membutuhkan pihak lain. Namun di waktu yang sama dengan terus mengisap Nera dari manusia, maka Pithe akan terus menerus mengorbankan jiwa-jiwa manusia yang tidak mengerti apapun.

Petualangan Areta dalam membuat rencana pelarian dan menyelamatkan perempuan-perempuan Homo sapiens seperti dirinya. Perempuan-perempuan yang “dipaksa” mengandung janin Pithecanthropus erectus *ugh..membayangkannya saja sudah membuat mual*, Di sini, karakter dibuat berkembang dengan sangat baik oleh penulisnya. Areta, remaja perempuan yang sangat serius dan terkesan anti sosial akhirnya mulai berubah menjadi lebih dewasa dan bisa merasakan kehangatan hidup berkelompok. Ini membawa perubahan pada kemampuan Areta bersosialisasi.

Closing cerita pun menjadi twist tersendiri. Kehadiran sosok Mala, perempuan Homo sapiens yang membantu Areta membuat rencana pelarian dan kehadiran seorang ‘pengkhianat’ dari kelompok Pithe yang juga ikut membantu Areta menyusun rencana kembali ke bumi pun tidak terduga oleh saya.

Hm..secara kesuluruhan ide ini menarik sekaligus “Indonesia banget”-lah. Kalau buku pelajaran sejarah bisa seseru ini saya rela banyak-banyak belajar sejarah :D

Namun ada pertanyaan yang masih membuat saya perasaan. Kok bisa nenek Areta bisa selamat dan terus tinggal di Bumi? Bukankah ceritanya, nenek tersebut sempat menikah dengan pangenran negeri Pithe?
Hm..hanya itu saja sih pertanyaan saya :D

Terima kasih untuk bacaannya yang menarik (^_^)v

potongan puisi yang terinspirasi oleh buku ini

22 komentar:

  1. Neneknya jadi tukang culik kali mbak ...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapikan neneknya sempat hamil gitu *ugh..spoiler deh* :D

      Hapus
  2. Hihi... jangan-jangan neneknya 'pengkhianat' manusia nih.. harus baca biar paham dan menemukan jawaban :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..mau dibocorin nggak ceritanya, Mbak Melani?? ;)
      *kedip-kedip*

      Hapus
  3. Kebayang deh serunya novel ini, saya juga suka hal-hal tentang manusia purba...sayang belum kelakon jalan2 ke Sangiran atau Trinil :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga jadi pengen ke Trinil.
      ajak-ajak ya Mbak Esti kalo nanti mau ke sana (^_^)

      Hapus
  4. Novelnya kayaknya wajib banget baca soalnya genrenya sci-fi dan latarnya Indonesia. Saya udah liat blog tour yang lalu dan ada yang bilang novel ini bagus dijadiin film, jadi bagus kan? dan kita pasti dpt pengetahuan juga dari novel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bikin hal-hal yang berbau sejarah nggak lagi apek :D

      Hapus
  5. mungkin, neneknya sempat juga diselamatkan sama sosok Homo Sapiens generasi sebelum Mala kak.. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha..ha.. yang ada ya, si nenek ituuuuuu..
      Nggak jadi..
      takut ditimpuk buku sama penulisnya.. :D

      Hapus
  6. Huaaa, kepingin banget menjelajah novelnya. Keseruan yang di ceritakan kak Atria menggenang di benak sampai sekarang. Membayangkan alur ceritanya sampai-sampai dihantui rasa penasaran nih, kak. Merasa wajib punya setelah ngikutin blogtournya nih((: Hehe xD

    @alfianifitiri_

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kan jarang banget tuh ada sci-fi karya anak bangsa

      Hapus
  7. Wah, mbaca sinopsisnya aja udah bikin penasaran, apalagi kalau udah mbaca, bakalan seru! Dan kayaknya ini adalah novel science fiction yang jarang ada di Indonesia. Tapi walau gitu, novel ini patut diacungin jempol! sukses selalu buat Kak Riawani Elyta dan Kak Syila Fatar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kaget juga pas nemu tulisan science fiction di covernya

      Hapus
  8. "Saat remaja lain sibuk dengan dilema tentang cinta, idola, sekolah dan hal-hal semacam itu, gadis itu malah terobsesi pada tulang." sama kaya "Banyak buku tentang tema cinta, kalau ini sci-fi, petualangan dan mengambil cerita dari Indonesia". Idenya cemerlang nih, liat covernya sekilas jadi inger film Rise of the Planet of the Apes :D karena aku suka Pohon, itu covernya apik, biru pula :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, buku ini agak-agak di luar jalur..he..he.. :D
      setuju, saya juga suka biru, jadi covernya terlihat elegan banget :D

      Hapus
  9. Great review kak. Dr baca sinopsis dan ulasan buku yg ditulis kakak, novel ini masuk ke whislist ku. Genrenya sci-fi, tambah keren deh novelnya. Jd, penasaran gimana ending dr novel ini. Covernya jg sederhana tp menarik, nggak heboh gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku ini remaja banget, tapi nggak bikin galau (^_^)

      Hapus
  10. gilee keren yah reviewnya, apalagi ceritanya.. sebelumnya ga terlalu tertarik sama genre sci-fi, tapi setelah baca Review Gerbang Trinil ini jadi penasaran >_< *bisa-bisa gabisa tidur*
    sinopsisnya bikin penasaran banget kaaa.. awal denger kata Gerbang Trinil tuh udah nebak tentang zaman purba gitu.. eh ternyata ... ckckck
    ceritanya dikemas menarik banget kaaa :) great!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nanti cari di toko buku ya. Trus promosiin ke teman kamu. terutama yang suka anti sama sejarah siapa tahu jadi suka belajar sejarah (^_^)v

      Hapus
  11. kereeen...
    suka deh sama resensi2 mbak atria. engg...kita seumuran deh kayaknya, 25th kan? #PLAK Abaikan usia kita, hihi

    kamu mengupasnya tuntassss. bukan menjabarkan isinya, malah menjabarkan misteri2nya, akhirnya jadi pengen bacaaa... pengen punyaaa... sippp!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..tahu banget umur saya :D
      Hayo nge-stalk ya??
      *rapiin jilbab*

      Ha..ha.. iya nih, Serunya mereview itu adalah bagaimana bikin ceritanya bisa tetap bisa dijabarkan tapi nggak jadi spoiler.
      Cari di toko buku aja. Kalo ngga, coba pesan ke penerbitnya. Ada beberapa buku Terbitan Moka yang juga menarik untuk dibaca :D

      Hapus