Selasa, 18 November 2014

Menikah Titik Dua



“Aku jarang merasa sedih yang benar-benar sedih. Namun ternyata, kesedihan itu perlu agar kita bisa lebih peka. Peka pada perasaan sendiri. Peka pada Tuhan.” (hal. 16)

“Apakah bahagia adalah sebuah gagasan yang diciptakan agar manusia tidak pernah berhenti percaya dan selalu berharap bahwa akan banyak hal baik datang dalam hidup mereka yang rumit?” (hal. 69)


Penulis: Agustina K. Dewi Iskandar
Editor: Fanti Gemala
Desainer Kover & Ilustrasi: Rio Siswono
Penata Isi: Novita Putri
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: xii + 186 halaman
ISBN: 978-602-251-702-3
Sakinah, mawaddah, warahmah, - katanya itu impian keluarga bahagia. Tapi bagaimana kalau ternyata masih ada juga perempuan yang tidak cukup bahagia dengan segala ketenangan, cinta, dan keseimbangan? Lalu, ia berusah mencari-cari kisah bahagia yang direkamnya bersama orang lain, meskipun kemudian tiba-tiba saja ada kejernihan perasaan yang mendera, membuatnya kembali menyadari bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang tidak boleh dinodai dengan perselingkuhan

Realitas: kejujuran bukan berarti selalu berbalas dengan kejujuran berporsi sama. Laki-laki pun masih tetap punya rahasia yang belum tentu terbagi dengan perempuan yang dinikahinya. Sementara mau tidak mau, perempuan adalah siput raksasa yang harus berbesar hati menyangga rumahnya meskipun ada satu bagian kecil hati yang mungkin akan terluka. Ini menjadi kisah sepasang suami istri yang melakukan perjalanan untuk menemukan  titik bagi setiap pencarian yang terjadi setelah mereka menikah. Bagaimana kalau tetap saja ada dua titik dalam sebuah pernikahan?

***

“Mungkin cinta adalah sesuatu yang bersifat ilusif. Meskipun pada akhirnya, dengan sedikit terpaksa, perempuan belajar bahwa tidak selalu karena cinta maka laki-laki dan perempuan menikah, tetapi karena kebiasaan bersama dan keber-ada-an yang tanpa disadari telah saling melengkapi.” (hal. 28-29)

Buku Pernikahan Titik Dua ini mencoba mengisahkan tentang hiruk pikuk rumah tangga. Caranya sedikit berbeda. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, secara berganti penulis menceritakan tentang perasaan tiga orang tokoh yang dijerat cinta. Dengan jenis cinta yang berbeda. Adalah Kansha, sosok perempuan yang mencintai kehidupan. Suami Kansha, Loki, terjebak dalam cinta yang tidak mampu ia hentikan. Dan juga sosok Wibi yang tidak pernah bisa melupakan cinta di masa lalu yang terus ia yakini sebagai masa depannya.

Narasi tentang hubungan ketiga orang ini diawali dan ditimpali oleh postingan-postingan blog yang ternyata ditulis oleh Kansha. Blog yang ditemukan tanpa sengaja oleh Wibi. Blog yang kemudian jadi penghubung mereka. Blog ini menjadi cara Kansha membagi perasaan-perasaannya yang kemudian oleh Wibi dijadikan cara membaca perasaan-perasaan Wibi tentang rumah tangga Kansha.

Adakah Kansha telah berselingkuh saat ia dengan leluasa membagi hal-hal terdalam dari perasaannya pada orang lain dan tidak mampu membagi hal itu pada suaminya sendiri? Bagaimana bisa Wibi terus mencintai Kansha meski ia tahu perempuan itu telah menikah. Dan Loki, lelaki yang sempurna namun ternyata selalu berusaha tampil sempurna demi menyembunyikan satu kekurangan yang sangat mencengangkan yang ada di dalam dirinya.


“Hanya tahu nama nggak akan membuat kita terhindar dari justifikasi-justifikasi yang belum tentu benar. Nama adalah juga hanya cover. Nama adalah sesuatu yang orang tahu dan diri kita tahu.” (hal. 37)

***

“Maka, wahai perempuan, janganlah pernah menjadi lelah dengan kodratmu sebagai perempuan. Karena pada ikhlas itulah, maka titik mula menuju surga akan terbuka....” (hal. 28)

Membaca novel Menikah Titik Dua ini, pembaca akan disuguhi pemikiran-pemikiran Kansha tentang kehidupan. Rasanya tidak berani menuliskan itu sebagai pikiran Agustina K. Dewi Iskandar tentang pernikahan. Namun tulisan-tulisan Kansha di blog ini jadi menarik dicermati sebab awalnya Kansha menggambarkan kehidupan pernikahan sebagai sebuah hidupa yang mampu membuatnya nyaman. Namun belakangan Kansha mulai merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia mulai menuangkan pikiran-pikirannya yang lebih kompleks tentang pernikahan.

Pikiran-pikiran itu menarik untuk diikuti. Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah tulisan blog Kansha yang berjudul “Perempuan adalah siput perkasa” di halaman 27. Digambarkan bahwa perempuan seperti siput yang selalu membawa rumahnya ke manapun dia berada. Pada seorang istrilah perkara rumah itu digantungkan. Kenyamanan dan keindahan sebuah rumah tergantung dari seorang istri yang menjaganya.
Pikiran-pikiran Kansha tentang pernikahan yang dituangkan dalam blog serta percakapannya dalam bentuk chatting-an dengan Wibi yang membuat kisah ini menarik untuk diikuti. Sebuah gaya penceritaan yang cukup unik meski bukan hal yang baru.

Melalui buku ini saya belajar tentang Johari Window. Sebuah konsep psikologi yang sangat asing dalam duniaku. Yang mungkin tidak akan kuketahui jika tidak membaca buku ini.

Sayangnya, saya sering kali merasa menjadi orang bodoh saat membaca tulisan-tulisan di blog ini. Ini karena sering kali diksinya menjadi terasa berat untuk dipahami. Penulis sesekali menggunakan kata yang jarang digunakan dalam keseharian. Bahkan cenderung menggunakan penggambaran dan istilah-istilah khusus. Contohnya penggalan paragraf berikut:


“Katamu, kau mencari seseorang yang akan membiarkan warnamu dan warnanya saling bersisian, namun tetap tak kehilangan substansi warna masing-masing. Kalian akan membangun layar tabung, ruang hampa dimana kalian dapat saling membentangkan layar fosfor yang terdiri dari sejumlah titik yang sangat banyak, sangat kecil ukurannya, disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah bidang layar, dan menembakkan elektron sehingga menghasilkan cahaya dalam bentuk warna.” (hal. 39)

Sejauh ini, membaca buku ini seolah tengah mengikuti perenungan-perenungan pribadi tentang pernikahan namun dilengkapi dengan kisah. Ditampilkan melalui karakter Kansha. Pikiran-pikiran Kansha menjadi pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan kepada pembaca untuk dijawab sendiri. Membuat pembaca berkontemplasi dengannya.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik. Meski kisah tentang Loki sebenarnya gampang tertebak. Namun di waktu yang bersamaan membuat pembaca bertanya-tanya apa yang terjadi kemudian? Bagaimana Kansha akan menghadapinya? Apa pilihan Loki?

Novel Menikah Titik Dua ini cukup membuat pembaca berfikir. Genre ini jelas jauh berbeda dengan genre yang ditulis oleh Agustina K. Dewi Iskandar sebelumnya di novel Batas (yang juga telah saya review di sini).

Puisi yang terinspirasi oleh buku ini. Sila cek di instagram saya

“Dengan mengeluh, kamu sesungguhnya sedang melakukan detoksifikasi hati agar kemudian kamu bisa kembali dan bangkit dan berfikir dengan lebih jernih.” (hal. 48)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar