Senin, 17 November 2014

Merajut Benang Cahaya



“Mahasuci Allah yang mempergilirkan segala sesuatu dengan teramat seimbang. Memberikan kita dua pilihan hidup tanpa celah: bersyukur pada nikmat, atau bersabar saat takdir tak seindah harap.” (hal. 159)


Penulis: Arrifa’ah
Penyunting: Mursyidah
Penata letakL Angga Gusniardi
Desain Cover: Maretta Gunawan
Redesain: Sul Nugroho
Penerbit: Qibla (imprint dari Bhuana Ilmu Populer)
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: xii + 189 halaman
ISBN: 978-602-249-772-1

Hidup adalah rangkaian perjalanan yang kita lalui seiring dengan derap waktu. Terkadang, kita melangkah terlalu cepat, sehingga tak sadar pada benang-benang cahaya hikmah yang sejatinya selalu saja ada di balik berbagai peristiwa, bahkan yang kita anggap paling biasa sekalipun.

Maka kita memang perlu untuk menyisakan waktu sejenak, untuk merajut setiap hikmah yang terburai di setiap detik masa tersebut. kita perlu menengok kembali dengan hati yang bening, dan menemukan pencerahan yang semoga membawa hidup kita menjadi lebih baik.

Merajut Benang Cahaya adalah rangkaian tulisan renungan untuk melalui hari-hari dengan lebih berarti. Ia hadir sebagai ajakan untuk mengambil jeda sejenak dari arus rutinitas kita, untuk mengumpulkan kekuatan dan memaknai setiap nikmat yang telah Allah beri, mengajak turut menebarkan pesan kebenaran sebagai bentuk eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi, serta mengingat perihal kehidupan yang akan berakhir, sehingga harus dilalui dengan sebaik-baiknya cara.

Susurilah setiap untaian kalimat yang ada di dalamnya. Lalu, rasakanlah perbincangan dengan nurani, yang akan memberikan rehat dan makna di dalam diri.

***

Buku Merajut Benang Cahaya ini adalah sebuah kumpulan tulisan yang dibuat personal namun membawa nilai-nilai universal. Melalui tulisannya Arrifa’ah mencoba “membangunkan” kepekaan hatinya yang sesekali terpejam. Ia membagi pikiran-pikirannya tentang berbagai hal yang biasa saja hingga menjadi terasa “tak biasa”.

Lihat, bagaimana pengalaman menjadi penumpang angkot (saya menyebutnya #BaladaAngkoters) yang bagi banyak orang biasa saja bahkan sering kali terasa menyebalkan menjadi penuh hikmah. Caranya? Dengan mengubah sudut pandang. Dengan melakukan perenungan. Ini yang dilakukan oleh Arrifa’ah yang kemudian ia bagi lewat tulisannya. 

Bahasan Arrifa’ah tentang berbagai filosofi yang berasal dar hal-hal simple menjadi analogi yang menarik dalam menjabarkan tentang kehidupan. Cerita “Gorengan dan Kehidupan” contohnya, yang menjadikan kegiatan menggoreng kerupuk menjadi hal yang filosofis. Membuatnya menjadi media untuk mengingatkan tentang sabar. Atau tentang “kacamata” yang membuat kita ingat untuk tidak bersikap seenaknya tanpa memperhatikan perasaan orang lain.


Selain hal-hal sehari seperti itu, Arrifa’ah membagi pengalamannya dalam menempuh jalan dakwah. Bagaimana ia menceritakan suka duka, hikmah, dan kerinduan yang ia rasai dalam mengikuti jejak Rasulullah, menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ini ia ceritakan dalam Chapter Jeda Kedua: Cinta pada Jalan Cahaya.

Di Chapter terakhir Jeda Ketiga: Dalam Perjalanan Pulang Arrifa’ah menyajikan berbagai kontemplasi yang ia lakukan terkait akhir hidup. Saat nafas terakhir kelak akan terhembus. Tentang bagaimana manusia sering kali hidup dan lupa bahwa kelak ia akan mati. Tentang kematian yang tidak bisa direncanakan dan hanya bisa disiapkan.

Semua benang-benang hikmah ini diajaknya untuk kita rajut. Melalui setiap lembaran di buku ini, kita seolah diingatkan bahwa bahkan hal-hal kecil pun bisa mengejawantah menjadi samudra hikmah.

***

Dalam setahun kita melewatkan 365 hari. Seberapa banyak yang punya arti? Seberapa banyak yang kemudian berlalu dan terlupa begitu saja? Adakah kita bak robot yang menjejak bumi? Tak berhati? Ini adalah pikiran-pikiran yang kemudian muncul saat menutup buku Merajut Benang Cahaya ini.

Ada beberapa bahasan yang menarik yang diangkat oleh penulisnya. Hal-hal kecil yang lebih sering akan kita abaikan yang kemudian dengan “meminjam kacamata” penulis, menjadi hal-hal yang berbeda. Tentang kisah yang tertuang dari pengalaman duduk menjadi penumpang angkot. Atau kisah tentang sosok-sosok tanpa nama yang punya makna karena kebaikan akhlak seperti yang ia gambarkan dalam cerita Seorang Ibu Bergamis Oranye.

Tulisan-tulisan yang ditulis dengan bahasa tutur yang personal, membuatnya terasa mendalam. Tulisan-tulisan yang pendek pun membuatnya tidak membosankan. Sebab belum sempat rasa jemu menyapa, kisahnya telah diakhiri.

Melalui buku ini, kita pun diajak mengenal beberapa sahabat Rasulullah yang kisahnya melegenda. Secuil kisah tentang Rasulullah, Abu Bakar As Siddiq, Utsman bin Affan, Sumayyah, atau pun Bilal. Serta kisah-kisah orang baik yang hadir di kehidupan penulis dan menjadi teladan yang amat dekat. 

Namun, meski pun dituliskan dengan gaya bertutur, namun di beberapa bagian terasa agak “menceramahi” meski kemudian penulis menuturkan bahwa itu adalah sebuah pengingat yang ingin ia sampaikan termasuk kepada dirinya sendiri.

Tapi secara keseluruhan ini, tulisan ini penuh hikmah dan sangat mudah untuk dinikmati. 

Puisi yang terinspirasi oleh Buku Merajut Benang Cahaya

12 komentar:

  1. Keren. Renungan dari hal-hal yang tampak remeh.

    Atria juga keren. Tiap buku dihadiahi puisi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. review-an Mbak Melani lebih mantap

      Hapus
  2. saya selalu suka baca resensi atria, lengkap, seimbang dan langsung dapet gambaran isi bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan "langsung dapet gambaran isi bukunya" tidak bermakna "spoiler"..he..he..
      susahnya mereview adalah memastikan yang ditulis tidak membocorkan keseluruhan cerita.
      *curhat blogger buku :D*

      Hapus
  3. Mantap. Kalimat-kalimat resensinya indah, apalagi puisinya.. (y) :')
    Perenungan dari hal-hal kecil ya? Ah, aku jadi sadar aku sering meremehkan hal-hal sepele. Berhenti sejenak dan merenungi hal-hal yang terjadi dalam kehidupanku sehari-hari mungkin akan membuatku jadi lebih bijaksana dan memperbanyak syukur kepada Sang Pencipta :)
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama..terima kasih sudah menjejak di sini (^_^)

      Hapus
  4. aku ngefans sama reviewnya Atria.. pingin deh bisa bikin review keren kayak tulisannya Atria..
    Diena juga keren nih bukunya, dari hal-hal kecil bisa berbagi hikmah lewat tulisan..
    Sukses yaa buat kalian berdua..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reviewan Mbak Linda malah lebih mantap, Mbak.

      Amin..sukses juga buat Mbak Linda (^_^)

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Review-nya bikin saya merinding waktu baca. Dan ide penulis untuk membuat buku ini masih langka. Ide Bagaimana ia menceritakan suka duka, hikmah, dan kerinduan yang ia rasakan dalam mengikuti jejak Rasulullah, menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam itu yang jadi point utamanya, apalagi untuk saya yang saat ini sedang mendalami agama Islam dan ingin lebih dekat kepada-Nya. Novel yang menarik dan menjadi teman yang tepat untuk membunuh waktu^^ :)

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum salam kenal mba ^_^

    Buku ini sangat menarik, mengingatkan kita pada rasa syukur. Tentu sangat bermanfaat bagi teman-teman yang lain. Salam kenal mba atria dan mba arifa. Double A ya hehe ^_^

    Perenungan memang penting halnya dalam menilai sejauh mana diri ini bermanfaat, sejauh mana pencapaian kita, ataukah sudahkah hari ini kita bersyukur. Perenungan biasanya identik dengan peristiwa-peristiwa yang memberi ilham dan mengingatkan kita pada kesalahan yang lalu.

    Kebetulan bulan penghujung tahun 2014 ini apakah kita sudah merenungkan apa yang telah kita capai tahun kemarin. Kesalahan apa yang kita perbuat pada orang-orang di sekitar kita tahun kemarin. Dan apakah tahun depan kita akan mencapai keinginan kita atau tidak.

    Bersyukur memang mudah dikatakan tapi bagaimana cara kita menikmati hidup, memperlakukan sesama dan menjalani hidup dengan penuh semangat sebagai buktinya.

    BalasHapus
  8. terima kasih pada Arrifa’ah yang menuliskan kisah dalam "Merajut Benang Cahaya". mungkin kisah-kisah yang diceritakannya sepele, ada di keseharian, namun karena itulah sisi menariknya. ternyata ada banyak hikmah yang terkadang tak dihiraukan oleh banyak orang. kisah simpel seperti di angkot, membuat saya penasaran. sebagai Ratu Angkot, saya pun mendapat banyak kisah dari orang2 yang duduk di dekat saya, namun sekalipun tak pernah saya tuangkan dalam blog karena tak begitu saya acuhkan. saya dengarkan tapi tak saya renungkan. miris yaaa....

    iyaaa...menggoreng kerupuk memang butuh kesabaran. kalau kurang sabar lalu membesarkan api, jadinya kerupuk malah gosong. kalau api kekecilan malah bantet. hmmm...benar juga ya. perenungan hiduppun didapat saat menggoreng kerupuk, kegiatan yang sering pula saya lakukan tapi tak sadar hikmahnya.

    buku yang indah...dengan beragam kisah di dalamnya. kisah berjuta hikmah tentunya. jadi pengen membaca dan mendekapnyaaa....enggg >.<

    BalasHapus