Jumat, 07 November 2014

My Daddy ODHA


“Masalahnya, setiap orang selalu pengin terlihat kuat di depan orang lain. Berusaha menutupi semuanya biar dianggap kuat. Padahal itu malah makin menyakitkan” (hal. 36)


Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Hutami Suryaningtyas
Perancang & ilustrasi sampul: Gloria Grace Tanama
Ilustrasi isi: Belinda C.H
Pemeriksa Aksara: Neneng & Intan
Penata aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: pertama, Juli 2012
Jumlah hal.: vi + 138 halaman
ISBN: 978-602-9397-32-1

Aku heran, deh, sama tingkat kecerdasan teman-teman-kalau bisa dibilang teman,sih- sekolahku. Mereka hobi banget mem-bully-ku. Ya, ayahku seorang ODHA (Orang dengan HIV AIDS). Itulah alasan kenapa kau selalu diperlakukan berbeda. Sejak SMP, aku mengalaminya. Dan, rupanya ini terus berlanjut hingga aku SMA. Semua orang mengasingkanku, kecuali Rani, sahabatku.

Di tengah perjuanganku menghadapi mereka yang menyebalkan, aku harus rela menerima kenyataan baru. Kak Andre minta putus lalu memacari Rani!

“Tasia itu kuat, sendirian pun pasti akan baik-baik aja.”

Cih! Cowok macam apa yang tega bilang begitu? Sahabatku sendiri juga sangat bodoh. Bisa-bisanya dia tanya padaku, “Kamu nggak apa-apa kalau aku jadian dengan Kak Ander?” Mereka berdua memang sudah sinting! Mana mungkin aku nggak apa-apa?!

Lalu aku menyadari bahwa situasi ini makin parah. Bahkan makin lama Rani ikut menjauhiku. Aku benar-benar sendiri sekarang. Rani, Kak Andre, semunya. Gimana kau bisa melewati semua ini? Aaarrrgh!

***

Novel ini bercerita tentang kehidupan Anastasia Kharzkov. Yang baru duduk di kelas 1 SMA dan ternyata harus menghadapi neraka. Ya, neraka yang diciptakan karena masa lalunya. Neraka yang diciptakan oleh teman-teman sebayanya.

Anastasia atau yang akrab disapa Tasia awalnya menjalani hari yang biasa saja. Sampai merebaklah informasi itu. Tentang ayah Tasia yang merupakan seorang ODHA. Tanpa mencoba memahami cerita dibaliknya, remaja-remaja ini memperlakukan Tasia bak virus yang bisa menulari siapapun melalui udara.

Tasia dikucilkan. Kali ini tidak semudah saat SMP, saat Rani mau berdiri di sisinya. Menemaninya. Kini, Rani bahkan enggan bicara dengan Tasia. Di tengah rasa sendiri itu, Tasia pun mulai mempersalahkan semua hal termasuk ayahnya dan penyakit yang diderita sang ayah.

***

“Kalau udah gitu, kamu nggak punya pilihan lain selain menebusnya, menjalani pilihanmu sampai akhir, berjuang.” (hal. 36)
Isu bullying dan ODHA disatukan dalam satu frame? Dan jadi cerita remaja?
Hm.. rasanya tidak akan mudah. Namun buku yang cukup tipis ini sedikit banyak berhasil berbagi sejumlah hal pada pembaca. Melalui cerita yang simple dengan bersuasanakan kehidupan remaja, penulis menjadikan selipan-selipan informasi tidak terasa menggurui.

Sebuah “sindiran” coba diketengahkan adalah tentang mudahnya manusia berprasangka dan terpengaruh oleh informasi yang mereka dapatkan tentang seseorang. Tidak pernah ada teman-teman Tasia yang coba mencari tahu penyebab ayah Tasia mengidah HIV AIDS. Kemudian masih banyak orang yang merasa bahwa hanya dengan menyentuh penderita HIV maka mereka akan segera terjangkit penyakit tersebut.

Ini jelas mengetengahkan kenyataan dalam bentuk fiksi. Sebuah cerminan yang menarik.

Sayangnya, konflik di novel ini kurang tajam padahal ada beberapa hal lain yang jika berhasil dieksplorasi dengan baik, maka buku ini tidak terasa datar. Sudut pandang orang pertama yang digunakan memang mempersempit lingkup cerita. Namun sayangnya emosi yang ditampilkan pun masih kurang kuat. Padahal dengan memanfaatkan interaksi tokoh “aku” dengan orang-orang di sekitarnya, maka masalah dan emosi bisa dibuat lebih kompleks.

Tapi, tetap saja untuk sebuah karya pertama, buku ini sudah cukup menarik (^_^)v

*siap-sipa membongkar karya Mbak Dy Lunaly yang berikutnya*

“Mama selalu mengajariku, sebagai cewek kita harus berdandan, tapi berdandanlah untuk diri kita sendiri. Untuk membahagiakan diri kita. Dengan itulah kecantikan kita sesungguhnya akan terlihat. Cantik itu berasal dari kebahagiaan, itu pesan Mama yang selalu aku ingat.” (hal. 25)
puisi yang terinspirasi oleh My Daddy Odha


Tidak ada komentar:

Posting Komentar