Kamis, 13 November 2014

Rindu



“Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.” (hal. 160)

Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Cover: EMTE
Lay Out: Alfian
Penerbit: Republika
Cetakan: IV, November 2014
Jumlah hal.: ii + 544 halaman
ISBN: 978-602-8997-90-4

“Apalah arti memiliki,
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”
Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menenuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjangan kerinduan.
Selamat membaca.

***

“Hanya dua hal yang bisa membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang ia sukai, lantas memutuskan pergi naik kapal apapun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam.” (Hal. 33)

Novel Rindu yang ditulis oleh Tere Liye kali ini menarik untuk diikuti. Waktu yang dihabiskan untuk melahap tulisan sebanyak 544 halaman rasanya memang setimpal dengan hikmah yang ditebar oleh Tere Liye untuk digali oleh pembacanya.

Kisah perjalanan sebuah kapal yang mengangkut calon jemaah haji dari Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia sebelum merdeka). Sebuah kapal uap cukup besar bernama Blitar Holland yang bertolak dari Makassar menuju Jeddah. Perjalanan yang membutuhkan waktu satu bulan penuh dengan berbagai dinamika kehidupan yang menjadi kapal Blitar Holland sebagai panggungnya. Tempat itu menjadi “rumah baru” bagi para penumpangnya.

Dalam cerita ini diketengahkan sejumlah tokoh sentral. Tiga sosok yang cukup mencolok adalah tokoh Gurutta, Daeng Andipati, Ambo Uleng dan seorang gadis kecil ceria bernama Anna. Memang ada 5 pertanyaan yang muncul dari pengalaman hidup masing-masing tokoh. Selain tokoh-tokoh tersebut, ada juga 2 tokoh lain yang kelak pertanyaannya akan terlontar dan dijawab oleh Gurutta.

Sudut pandang orang ketiga yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca bisa menikmati kisah di dalam kapal uap Blitar Holland lebih lengkap. Secara berganti, narasi ditampilkan dari dekat tokoh Daeng Andipati, Gurutta, Ambo Uleng, Bonda Upe, dan sering kali dari dekat Anna.

Cerita di dalam Rindu ini mencoba mengisahkan kembali kehidupan yang dialami oleh para jemaah haji zaman dulu yang harus meninggalkan kampung halaman selama 9 bulan dan menghabiskan 2 bulan hidup mereka di atas kapal laut. Dalam rentang waktu ini banyak hal yang bisa terjadi. Yang dikisahkan kali ini hanya cerita keberangkatan yang membutuhkan waktu 1 bulan perjalanan.

Banyak hal yang terjadi selama sebulan itu. Ada kisah penuh keceriaan saat Anna dan teman-temannya menjadikan kapal sebagai arena permainan. Ada juga kisah mengharukan saat sebuah cinta dipisahkan oleh takdirNya. Ada pula kisah pemaafan dan penerimaan pada masa lalu. Kisah cinta yang akhirnya belajar diikhlaskan. Hingga kisah menegangkan saat terjadi gesekan antara pribumi dengan penjajah (mengingat setting waktunya adalah tahun 1938, sebelum Indonesia merdeka).

“Luka fisik dengan cepat sembuh, sedangkan pemahaman yang baik atas setiap kejadian akan selalu menetap.” (hal.53)

***

“Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.” (hal. 197)

Membaca novel Rindu membawa saya ke sebuah petualangan penuh hikmah. Dengan duduk bersama buku ini, saya merasa tengah menemukan beberapa makna hidup di dalamnya. Keberadaan Gurutta sebagai pemimpin yang baik pemahamannya tentang Islam menjadikannya sebagai guru dalam sekolah kehidupan di rumah terapung para jemaah haji, Kapal Uap Blitar Holland.

Menariknya, penulis yang berlaku sebagai narator cerita berkali-kali membisiki pembaca tentang akan ada lima pertanyaan yang akan dilontarkan dan kemudian terjawab di dalam kapal tersebut. Kapal yang membawa kerinduan, rindu pada Rabb Semesta Alam, rindu pada kekasih hati, hingga rindu pada ketenangan hati.

Selama membaca novel ini, bab-bab yang secara lugas menjawab pertanyaan tersebut menjadi bab-bab favorit saya. Sebab sulit untuk menentukan quote yang paling mewakili. Sebab keseluruhan bab tersebut adalah penjelasana panjang untuk sebuah pertanyaan tentang hidup. Dalam kisah ini, setiap kali Gurutta menjawab pertanyaan tersebut, ia selalu membuatnya menjadi tiga jawaban yang terpisah namun saling berkaitan erat. (he..he..ini mengingatkan saya pada komik detektif Dan Detective School yang saat akan menjelaskan penyelesaian suatu kasus selalu mengatakan ada 3 petunjuk utama). 

Dari lima pertanyaan yang diajukan ada dua yang saya rasa paling dekat dengan kehidupan saya dan itu menjadi bahan muhasabah untuk saya. Bukan berarti tiga pertanyaan lain tidak menggugah hati. Ini terkait seberapa dekat masalah itu dengan masalah saya pribadi. Dua pertanyaan itu adalah pertanyaan Mbak Kakung dan pertanyaan Ambo Uleng. Di saat membaca bab Empat Puluh Enam, saya tergugu oleh air mata haru. (T_T)

“.... Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga terakhirnya.” (hal. 284)

Harus saya akui, cara Tere Liye menuturkan cerita membuat pembahasan yang seharusnya cukup berat ini menjadi ringan. Kesan mengguruinya pun tersamarkan. Saat membaca buku ini saya lebih sering merasa bahwa narator cerita (penulis) menempatkan diri sebagai teman bermain Anna, tokoh gadis kecil ceria yang menghidupkan kisah ini, namun sudah dewasa usianya. Dengan penempatan seperti ini, cerita dituturkan dengan ringan dan dengan keceriaan & rasa ingin tahu kanak-kanak.

Selain itu, kekuatan Tere Liye di novel ini adalah kemampuannya menyimpan informasi untuk kemudian dikeluarkan sedikit demi sedikit. Serta mampu menggiring pembaca untuk tetap melanjutkan membaca hingga seluruh pertanyaan terjawab.

Namun sejujurnya ada beberapa hal yang dengan mudah tertebak di dalam cerita ini. Seperti peran yang diambil Ambo Uleng saat kapal uap Blitar Holland menghadapi masalah. Serta tentang dibajaknya kapan uap tersebut.

Selain itu, rasanya akhir yang terlalu manis yang dijabarkan di epilog membuat kisah ini menjadi antiklimaks (>_<)

Tapi secara keseluruhan, saya kembali dibuat jatuh cinta pada karya Tere Liye. Ah, sebab Rindu memang menjadi hal yang diakrabi dan kadang dibenci manusia sejak dahulu.

“Buku adalah sumber ilmu tiada ternilai, mengisi waktu kosong dengan membaca adalah pilihan baik selama di kapal.” (hal. 58)
 ***
 
Puisi yang terinspirasi oleh tokoh Ambo Uleng dalam novel Rindu
Kumpulan Quote
“Mata air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar airnya.” (Hal. 57)

“Dalam banyak hal, diam justru membawa kebaikan.” (hal. 83)

“Tidak perlu janji. Insya Allah sudah lebih dari cukup, Nak. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok lusa.” (hal. 172)

“Hidup ini sesungguhnya adalah antrean panjang menunggu kematian. Semua makhluk yang bernyawa, besok lusa pasti mati.” (hal. 433)


2 komentar:

  1. Hihi... iya, endingnya dibikin seperti gaya dongeng penuturannya. Tapi, overall, susah untuk tidak mengatakan bahwa ini karya terbaik Tere Liye. Seperti yang dikatakan Mbak Dian Nafi di twitter, di novel Rindu, Tere Liye berbicara tentang semesta. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.Bagi saya ini karya terbiak Tere Liye yang saya baca (^_^)

      Hapus