Selasa, 23 Desember 2014

A Little Princess: Putri Sejati Itu Lahir dari Hati



“Apabila Alam telah menjadikanmu orang yang murah hati, maka kedua tanganmu akan selalu terbuka, begitu pula hatimu; dan meskipun ada kalanya kedua tanganmu kosong, hatimu akan selalu penuh, dan kau masih bisa memberi dari situ- hal-hal yang hangat, ramah, dan penuh kasih- bantuan, kenyamanan, dan keceriaan- dan kadang-kadang suara tawa ramah dan riang pun sudah merupakan bantuan terbaik.” (hal.81)


Penulis: Frances Hodgson Burnett
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Desain dan ilustrasi cover: Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, November 2010
Jumlah hal.: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6406-7

Ketika baru datang ke London dan menjadi murid di sebuah sekolah asrama bergengsi. Sara Crewe memiliki segalanya –pakaian-pakaian indah, boneka-boneka cantik, dan ayah yang selalu memenuhi segala keinginannya. Hidupnya nyaris sempurna sampai hari ulang tahunnya yang kesebelas. Sarah mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dan tidak mewariskan apapun padanya. Gurunya, Miss Minchin, membencinya dan memperlakukannya dengan kejam, karena dia telah jatuh miskin.Kini Sarah mesti menghadapi kesulitan-kesulitannya dan membuktikan bahwa dia tetap seorang “putri raja” yang bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa berat itu.

***

Ketika seorang anak dibesarkan dengan kasih dan kebaikan budi, maka materi bukan tolak ukur sebuah kebahagiaan. Ketika seorang anak dibesarkan dengan kecintaan pada buku dan dibiarkan mengembangkan imajinasi, maka kebahagiaan tidak terletak pada apa yang dimiliki melainkan apa yang bisa dipelajari. Hal inilah yang coba diketengahkan oleh Frances Hodgson Burnett.

Karya-karya klasik memang selalu sarat dengan nilai moral. Buku anak-anak A Little Princess ini salah satu contohnya. Karya yang diterbitkan pertama kali tahun 1905 ini mengangkat kondisi masyarakat di Inggris saat itu. Tokoh Sara Crewe adalah seorang anak yang berusia 7 tahun namun dengan kedewasaan dan wawasan yang melampaui umurnya. Ini dilatarbelakangi oleh kondisinya yang sejak kecil tumbuh dewasa tanpa seorang ibu, tinggal di India (jauh dari tanah airnya), ayah yang penyayang dan periang, serta kesenangannya membaca buku. Maka tidak aneh jika seorang gadis kecil sepertinya mampu menganalisis banyak hal sebab ia tumbuh lebih mandiri dan terbuka dalam berpikir.

Setting cerita di buku ini berpusat di sekolah Miss Minchin yang dikelola oleh Miss Minchin. Ini adalah sebuah privat school yang diperuntukkan khusus bagi anak perempuan –dan tentu saja yang mampu membayar seluruh fasilitasnya. Di lingkungan ini, Sara kemudian menjadi sosok yang mencolok. Ini karena kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya, kecerdasannya, serta sikapnya yang enggan menilai seseorang dari status sosialnya. Sara tidak begitu nyaman bergaul dengan teman-teman yang berasa dari kalangan berada dan senang memperlakukan orang lain seenaknya. Sara malah sibuk bersikap baik pada gadis sebayanya yang selalu jadi bahan lelucon karena dianggap bodoh, Ermengarde. Sara juga menjadi “ibu kecil” bagi Lottie Legh, gadis kecil yang cengeng, manja dan mudah marah. Sara juga bersikap baik, ramah dan murah hati pada Becky, gadis pesuruh di sekolah tersebut.

Kehidupan Sara baik-baik saja sampai suatu hari datang kabar yang sangat menyedihkan tepat di hari ulang tahunnya yang kesebelas. Ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki meninggal dunia. Tidak hanya itu, Sara jatuh miskin karena ayahnya tidak meninggalkan uang warisan sepeserpun akibat ditipu oleh temannya. Sejak itu, perlakuan Miss Minchin padanya berubah drastis. Yang awalnya diperlakukan bak puteri karena menjadi anak paling kaya di sekolah tersebut menjadi pesuruh sekolah karena tidak bisa lagi membayar seluruh biaya sekolah. Sejak itu, Sara harus bekerja keras. Ia tidak lagi diizinkan belajar di kelas, ia dipindahkan dari kamarnya yang luas ke bilik bawah atap yang dingin, sempit, gelap dan sesekali dikunjungi tikus.  Sara juga harus menahan penderitaan akibat direndahkan oleh orang-orang yang dulu iri pada perlakuan khusus yang ia terima. Khususnya oleh Lavinia. Namun kedewasaannya dan hati yang baik membuatnya mampu menahan seluruh penderitaan tersebut. Bahkan ketika Lavinia dan kawan-kawannya mengejek tentang dirinya yang bukan lagi seorang putri ia berkata bahwa, 
“ ... itu tidak ada hubungannya dengan bentuk tubuh orang, atau apa yang kau miliki. Tapi justru berhubungan dengan apa yang kau PIKIRKAN, dan apa yang kau LAKUKAN.” (hal. 73) 
 Ia mampu memahami bahwa sikapnyalah yang membuat seseorang menjadi “puteri” hingga dihormati dan dicintai. Bukan karena apa yang ia miliki.

Benar-benar buku yang sangat menarik untuk dibaca oleh anak bahkan oleh orang dewasa. Buku ini mengajarkan tentang sikap peka dan belas kasih kepada sesama tanpa memperhatikan status sosial seseorang. Juga menampilkan sosok gadis kecil yang bisa menjadi teladan. Sikapnya yang anggun dan penuh keberanian, kecintaannya pada ilmu pengetahuan, dan kemauannya bekerja keras.

Dan seperti layaknya kisah-kisah tentang kebaikan, gadis kecil ini mendapat balasan yang setimpal di akhir kisah. Saat kebahagiaan datang membawa kembali harga dirinya dan mejauhkannya dari penderitaan. Sosok itu datang dalam bentuk kasih sayang dari seorang pria yang ternyata adalah kawan baik ayahnya.

Buku ini layak menjadi pilihan untuk dikoleksi dan diwariskan untuk anak cucu. Di dalam buku ini banyak hal baik yang bisa dipetik meski setting waktu, tempat dan suasananya berbeda dengan pembaca Indonesia. 


“Aku tidak menyukainya, Papa,” katanya. “Tapi kurasa para prajurit – bahkan yang paling berani sekalipun- sebenarnya tidak sungguh-sungguh SUKA pergi berperang.” (hal. 12)

1 komentar:

  1. Wah, wajib masuk koleksi buku klasik saya, nih! Awalnya saya pikir ini semacam sekuelnya Le Petit Prince :D

    BalasHapus