Minggu, 28 Desember 2014

An Abundance of Katherines: Ketika Teori Mencampakkan – Dicampakkan Dirumuskan



“Kau bisa sangat mencintai seseorang, pikirnya. Tapi kau tidak bisa mencintai sebesar kau merindukan mereka.” (hal. 152)



Judul asli: An Abundance of Katherines
Judul terjemahan: Tentang Katherine
Penulis: John Green
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Cover: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 320 halaman
ISBN: 978-602-02-0527-1
Katherine V menganggap cowok menjijikan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.
Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak.

Setelah diputuskan oleh Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengutak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

***

 “Kita terpaku untuk menjadi sesuatu, menjadi spesial atau keren atau apalah, sampai ke titik ketika kita tidak tahu lagi kenapa kita membutuhkanya; kita hanya merasa membutuhkannya.” (Hal. 282)

Seumur hidupnya Colin selalu menjadi anak ajaib yang mencolok. Dan seperti umumnya yang terjadi di masyarakat, mereka yang memiliki IQ tinggi punya kesulitan dalam bersosialisasi. Sayangnya tokoh Colin termasuk orang yang kemampun bersosialisasinya sangat minim. Dia hanya punya satu teman yang bernama Hassan. Seorang muslim yang sebenarnya juga cerdas namun selalu ingin santai menghadapi hidup. Hanya dia yang mampu bertahan untuk bergaul lama dan akrab dengan Colin. Mau memahami keanehan si anak ajaib.


Ketertarikan dan pengetahuan Colin dalam hal-hal yang menurut orang membosankan atau tidak menarik memang menjadi penyebab utamanya. Selain itu, Colin bukanlah orang yang peka dan mampu menerima apa yang disampaikan dengan tersirat oleh orang lain. Ini yang membuatnya kesulitan bergaul.

Saat patah hati akibat dicampakkan oleh Katherine XIX di awal libur musim panas, Colin pun – atas desakan Hassan – melakukan petualangan secara random dengan Hassan. Hingga mereka berdua terdampar di kota Gotshot dan berkenalan dengan Lindsay, perempuan cerdas yang populer. Mereka lantas dipekerjakan oleh ibu Lindsay untuk mewawancarai sejumlah penduduk kota kecil tersebut untuk menyusun buku tentang sejarah kota  tersebut.

Setelah itu petualangan Colin pun semakin berwarna. Dan di sela-sela kegiatannya mewawancarai penduduk, Colin masih terus menyelesaikan rumus yang ia buat tentang pola Tercampak dan Pencampak dengan mendasarkannya pada pengalaman pribadinya sendiri. Hingga ternyata ada satu anomali yang tidak bisa ia rumuskan. Katherine III, adalah satu-satunya Katherine yang tidak bisa ia polakan. Ada sesuatu yang ia lupakan. Hal yang membuat Colin gamang sebab selama ini ia selalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat sesuatu.

***

“Buku adalah Tercampak Sejati: letakkkan saja dan mereka akan menanti sampai kapan pun; pusatkan perhatian dan mereka akan selalu membalas cintamu.” (Hal. 158-159)

Dalam novel ini penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan kisah Colin. Rasanya pembaca menjadi penumpang gelap dalam perjalanan Colin dan Hassan. Namun di saat yang sama eksplorasi perasaan Colin jadi berjarak. Ini selalu jadi kekurangan sudut pandang orang ketiga.

Pertama kali membaca karya John Green saya jatuh cinta pada gaya penulisannya yang terasa “apa adanya” dalam The Fault in Our Stars. Sikap skeptis dan sinisnya masih bisa ditolerir dengan alasannya yang sangat kuat yakni sakit yang dideritanya. Namun rasanya pesona yang sama tidak saya temukan dalam buku An Abundance of Katherines.

Ketidaknyamanan ini memiliki beberapa alasan. Pertama, sebagai muslim saya tidak bisa menyukai cara John Green menggambarkan Hassan. Saya merasa bahwa ada pelecehan atas nilai Islam di sana. Meskipun saya harus mengakui bahwa memang ada muslim yang seperti itu. Hm..kira-kira ada gak ya orang yang tidak mengenal Islam dengan baik lantas menilai Islam dari apa yang ia baca di buku ini?

Alasan kedua adalah karena saya tidak begitu suka matematika dan di buku ini kurva muncul beberapa kali. Ya, Kurva dan matematika. Ugh.. jelas halaman ini saya baca cepat tanpa pemahaman sama sekali (>_<) Lagi pula setelah saya perhatikan, rumus yang dibuat Colin tentang Tercampak dan Pencampak ini hanya menjelaskan pola kemungkinannya namun tidak bisa mencegahnya atau pun menjadi rumusan untuk membuat para Tercampak menjadi si Pencampak. *bingung? Saya sendiri juga bingung :D Ha..ha.. abaikan sajalah*

Tapi, terlepas dari kedua alasan tersebut, ada pula hal menarik di dalam buku ini yang menarik untuk diikuti. Pemikiran-pemikiran Colin tentang hubungan manusia khususnya tentang pola interaksi manusia yang mencampakkan dan yang dicampakkan. Lucu membaca obsesi Colin menemukan Katherine I hingga XIX. Yang ternyata berawal dan berakhir di orang yang sama. 

Kehadiran Lindsey dan kota Gutshoot dalam cerita benar-benar menghidupkan keseluruhan cerita. Cerita petualangan Colin di Gutshoot penuh pengalaman menarik. Penuturan dengan alur campuran pun melengkapi pemahaman pembaca tentang kisah Colin dan seluruh Katherine yang datang di hidupnya.
“Masa lalu, seperti yang dikatakan Lindsey kepadanya, adalah kisah yang logis. Masa lalu adalah kesan tentang apa yang terjadi. Namun, karena belum terjadi untuk diingat, masa depan tidak perlu masuk akal sama sekali. (Hal. 299)

1 komentar: