Jumat, 26 Desember 2014

Api Tauhid



“Dari sejarah ini kita bisa belajar bahwa masa depan dan warna sebuah bangsa atau negara, sangat ditentukan oleh menu pendidikan yang dihidangkan kepada generasi penerusnya.”(Hal. xxviii)


Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Editor: Syahruddin El-Fikri
Cover: Ade Fery
Penerbit: Republika
Cetakan: I, November 2014
Jumlah hal.: xxxvi + 574 halaman
ISBN: 978-602-8997-95-9

Kehadiran novel Api Tauhid ini sangat pas dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada saat dunia Islam dihadapkan pada persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban.

Kekuatan sebuah novel sejarah tentu terletak pada kemampuannya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara indah dan menawan. Novel menjadi sarat dengan hikmah sejarah yang berfungsi untuk menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi sesudahnya. Sejarah yang merupakan pengalaman masa lalu (mati) dalam novel ini menajdi hidup kembali (living history), memberikan ibrah yang luar biasa. Inilah yang dihidangkan novel Api Tauhid ini.

Kemampuan untuk menghidupkan kembali peristiwa di balik tokoh berpengaruh dan penuh “keajaiban”, Sang Mujaddid Baiduzzaman Said Nursi, merupakan daya tarik tersendiri dalam novel ini.

Siapa pun yang mengidamkan dan ingin mewujudkan pertemuan berbagai peradaban yang berbeda-beda itu dalam balutan cinta dan penuh perdamaian – bukan pertentangan dan permusuhan (clash of civilization) – harus membaca novel Api Tauhid ini.

Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan. Penulis novel Ayat Ayat Cinta yang legendaris itu meramu kisah cinta berbalut kesucian yang menciptakan keajaiban. Ya, cinta yang suci selalu melahirkan keajaiban dan keteladanan. Novel Api Tauhid ini menyuguhkan hal itu. Selamat membaca!

***

Habiburrahman kembali mengisahkan perjuangan seorang anak santri. Kali ini dengan tokoh bernama Fahmi yang menggandrungi kisah sejarah. Baginya “Keindahan sejarah tiada bandingnya. Karenanya salah satu muatan Al-Quran adalah sejarah Nabi dan umat terdahulu agar kita menyelami lautan hikmah dalam keindahan.” (hal. 9). Kali ini pengejarannya atas kisah sejarah seorang tokoh besar Turki tidak hanya karena minatnya semata. Ia sedang butuh penyejuk hati yang bisa membuatnya mampu berpikir jernih dalam menghadapi persoalan yang tengah menderanya.

Fahmi tengah berduka akibat cinta pada istri yang dinikahinya secara sirri, Firdaus Nuzula, tengah meminta cerai darinya tanpa alasan yang jelas. Nuzula adalah anak Kyai Arselan, seorang pemilik pesantren yang cukup besar dan amat dihormati oleh Fahmi. Hatinya semakin resah saat sang Kyai sendiri yang meminta Fahmi menjatuhkan talak pada Nuzula namun tetap saja tanpa penjelasan yang berarti.

Akhirnya Fahmi pun menuruti ajakan sahabat-sahabatnya yang peduli padanya untuk ikut pulang bersama Hamza, teman kuliahnya di Universitas Islam Madinah dan berasal dari Turki. Ditemani Subki, teman kuliahnya yang juga berasal dari Indonesia, mereka pun bertolak menuju Turki. Sesampainya di Turki, rombongan mereka bertambah dengan kehadiran Bilal, Aysel dan Emel yang merupakan kerabat dan kawan Hamza. 

Setelah itu perjalanan menapak tilas jejak Badiuzzaman Said Nursi pun dimulai. Kisah hidup tokoh ini benar-benar menginspirasi. Said Nursi sangat besar cintanya pada ilmu sehingga di usia yang masih sangat muda melalui berbagai perjalanan demi menuntut ilmu dari satu ulama ke ulama lain. Hingga saat usianya masih sangat muda, 15 tahun, keilmuannya sudah setara dengan mereka yang telah menuntut ilmu hingga puluhan tahun.

Sepanjang perjalanan mereka mendatangi kota-kota di Turki seraya menyusuri kembali jejak Said Nursi, kisah hidup Said Nursi diceritakan oleh Hamza. Kearifan Said Nursi nampak saat Hamza bercerita tentang pidato yang dibacakan oleh Said Nursi saat Ottoman Turki mulai guncang.

“Lima pintu surga itu, tak lain dan tak bukan adalah lima pilar yang harus dimiliki, dihayati, dan diamalkan suatu bangsa agar surga ketentraman, kemakmuran,kesejahteraan, keamanan dan kemajuan bisa diraih dan dirasakan seluruh rakyat bangsa itu. .... Persatuan, kepatuhan terhadap ajaran-ajaran Islam, berjalannya pemerintahan yang sesuai konstitusi yang konsekuen dan berhasil, praktik-praktik bernegara yang benar berlandaskan prinsip-prinsip musyawarah akan menciptakan bangsa Utsmani yang mampu bersaing dengan negara-negara maju” (hal. 335 - 337)

Kepekaan Said Nursi dalam membaca kondisi masyarakat di sekitarnya membuatnya menjadi sosok teladan yang baik dalam bermuamalah. Ketika berada dalam kebenaran ia tidak pernah merasa takut, namun dalam memperjuangkan kebenaran tersebut Said Nursi berusaha agar tetap menggunakan cara-cara yang makruf.

“Menegakkan syariat tidak boleh dengan melanggar syariat! Syariat tidak boleh dilanggar dengan memanfaatkannya dan berteriak-teriak demi dia, padahal bukan.” (hal. 462)

Kepekaan dan kecerdasan Said Nursi pun membuatnya selalu berusaha merumuskan berbagai jalan keluar bagi negerinya dan dengan lantang  menyuarakan memperjuangkan nilai-nilai tersebut. Seperti halnya saat ia melihat bahwa bangsanya terjebak di abad pertengahan sedangkan negara-negara di Eropa tengah melesat maju, ia menyampaikan bahwa ada enam penyakit yang jadi penyebabnya.

“Pertama, mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik. Ketiga, suka kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima [seharusnya keenam], perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi.” (hal. 371)

Keberanian dan pemahamannya yang mendalam membuatnya disegani oleh musuhnya. Ia selalu mampu menyampaikan pendapatnya sehingga para musuhnya tidak mampu membantahnya. Berkali-kali Said Nursi didakwa karena dianggap berbahaya bagi negara namun berkali-kali pula ia lolos dari hukuman mati meski ia pun tidak luput dari hukuman penjara dan pengasingan. Said Nursi tidak pernah takut pada hukum manusia. Ia selalu percaya bahwa umur manusia itu di tangan Allah bukan di tangan selainNya.

Dalam hal pendidikan, Said Nursi memperjuangkan sebuah sistem pendidikan di mana ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam bisa berdampingan.

“Said Nursi tidak menolak ilmu modern sebagai sunnatullah mengikuti kemajuan zaman, namun akar jati diri yang berpijak pada nilai-nilai rabbani tidak boleh hilang. Karenanya, Said Nursi menawarkan sistem pendidikan komprehensif yang memadukan pendidikan agama dan ilmu modern secara seimbang.” (Hal. 326)

Kisah perjuangan Said Nursi dalam mempertahankan nyala api tauhid yang berusaha dipadamkan oleh orang-orang yang tidak ridho melihat kejayaan Islam. Setelah kekhalifahan Turki Ottoman berakhir, lahirlah Turki yang sekuler. Sistem sekuler ini berusaha menjauhkan bangsa Turki dari Islam. Mereka dilarang menggunakan bahasa Arab, dilarang membaca Al-Quran, hingga dilarang adzan dengan bahasa Arab. Semua itu bahkan diatur dengan undang-undang. Sungguh sebuah hal yang aneh dari negara yang mengaku sekuler.

Ada salah satu fenomena yang dikisahkan dilihat Said Nursi yang cukup menggelitik yang membuat saya berfikir, “Indonesia banget.” Yaitu yang dikemukakan di halaman 517 tentang sikap seorang yang mendebat seorang alim ulama hingga nyaris mengkafirkannya akibat perbedaan politik semata. Sedang di waktu yang sama ia memuji-muji seorang yang munafik karena memiliki pandangan politik yang sama dengan dirinya. Kondisi ini pun kerap kali ditemui dalam masyarakat Indonesia.

***

Kisah Badiuzzaman Said Nursi di dalam novel ini sungguh menarik untuk diikuti. Sayangnya, kisah Fahmi yang diciptakan oleh Habiburrahman malah tenggelam. Konflik dalam kehidupan Fahmi kurang tereksplorasi dengan baik. Selain itu tidak ada masalah yang berarti selama perjalanan Fahmi dan kawan-kawan berkeliling Turki. Konfliknya kehidupan Fahmi malah dikupas di awal dan akhir cerita. Seolah sebuah kisah yang terpisah dari cerita Said Nursi. Seolah salah satu adalah tempelan bagi yang lainnya.

Begitu pun bahasan sejarah di dalam novel ini. Disajikan kurang smooth sehingga bisa membuat jemu pembaca. Penjelasan panjang tentang sejarah Turki kurang terintegrasi dengan kisah Said Nursi.

Selain itu, dalam penokohan tokoh Fahmi ini too good to be true. Laki-laki soleh yang dikagumi perempuan. Bahkan dua perempuan yang ada dalam rombongan tersebut dikisahkan memiliki ketertarikan pada Fahmi, padahal selain Fahmi masih ada 3 laki-laki lain yang juga memiliki kelebihannya masing-masing. Karakter tokoh utama seperti ini selalu ditampilkan dalam novel-novel karya Habiburrahman El Shirazy.

Ada pula hal lain yang perlu diperhatikan oleh editor untuk diperbaiki di cetakan berikutnya, yaitu ada inkonsistensi pada penggunaan kata “aku” dan “saya” yang nampak di halaman 28. Terdapat pula cukup banyak kesalahan penulisan di dalam buku ini. Bisa jadi ini karena jarak penulisan buku dengan masa terbit hanya 2 bulan – tertera di akhir cerita tanggal 26 September 2014 dan naskah ini diterbitkan pada November 2014.

Ada pula hal lain yang mengganggu kenyamanan saya membaca. Yakni saat di bab tiga, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Padahal di keseluruhan cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga. Bahkan sudut pandang orang pertama itu tidak digunakan di seluruh bab tiga. 

Tapi secara keseluruhan kisah Said Nursi di dalam buku ini  benar – benar menginspirasi. Selain itu sejarah Turki pun bisa menjadi sebuah refleksi bagi bangsa Indonesia.


6 komentar:

  1. kang abik masih belum bisa lepas dari mainstreamnya ya : menokohkan lelaki sempurna yg dikagumi banyak wanita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget sama komen mb Lyta, xixixiiiii....

      Hapus
  2. Setujuuu, tokoh utama selalu charming almost perfect :))
    Awalnya tertarik baca setting Turki tapi baca review lengkap ini sedikit mengurangi ketertarikan hehe..
    Tapi tetep jempol buat novel ini karena sisi religiusnya tetap ditonjolkan.

    BalasHapus
  3. Setuju sama komentarnya mbak Atria Sartika.
    Mohon ijin utk saya share di fb mbak.

    Salam kenal
    Dian
    (Surabaya)

    BalasHapus
  4. Maaf, Dalam Novel Api Tauhid siapa Tokoh Utamanya? Kalau Fahmi tokoh utamanya, mka Said Nursi dalam Novel ini sebagai apa?

    BalasHapus
  5. Maaf, Dalam Novel Api Tauhid siapa Tokoh Utamanya? Kalau Fahmi tokoh utamanya, mka Said Nursi dalam Novel ini sebagai apa?

    BalasHapus