Jumat, 26 Desember 2014

Bulan Nararya



“.... Kadang sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak kita pahami.” (hal. 205)


Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan & Naafi Nur Roha
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Dzulqo’dah 1435/ September 2014
Jumlah hal.: 256 halaman
ISBN: 978-602-1614-33-4
Aroma mawar makin tajam tercium.

Aku menundukkan kepala, gigi gemelutukan. Rahang saling beradu. Kedua kaki berdiri tanpa sendi, namun betis mengejang kaku. Berpegangan pada kusen pintu, perlahan tubuh melorot ke bawah. Ada sebaran kelopak mawar yang tercabik hingga serpihan, di depan pintu ruang kerja. Sisa tangkai dan batang serbuk sari teronggok gundul, gepeng terinjak. Cairan. Cairan menggenang, berpola-pola.

Aku bangkit. Terkesiap. Otakku memerintahkan banyak hal tumpang tindih. Lari, keluar, berteriak. Atau lari ke dalam, mengunci pintu. Atau lari masuk, menyambar telepon. Tidak. Anehnya, intuisiku berkata sebaliknya. Tubuhku berbalik, meski melayang dan tremor, dengan pasti menuju tas. Merogoh sisi samping kanan, hanya ada pulpen dan pensil. Merogoh sisi kiri, ada tas plastik kecil, bekas tempat belanjaan yang disimpan demi eco living.
Segera kuambil tas plastik kecil, membukanya, menuju ke arah pintu.
Halusinasiku harus menemukan jawaban. 

***

“Tak mudah mengenali perasaan sendiri. Terlebih bila berlapis lapis demi lapis pertahanan diri yang mencoba melindungi ego. Tak ingin terlihat lemah, prasangka, atau bahkan memang sengaja ingin menyakiti diri sendiri adalah sedikit dari banyak alasan mengapa seseorang tak mau jujur mengakui perasaan.” (hal. 44)
Banyak yang berpikir bahwa seorang terapis atau psikolog adalah orang yang tidak akan terjebak dalam sebuah masalah berlama-lama. Mereka bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah, maka itu berarti mereka lebih mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi ternyata anggapan ini belum tentu benar. Hal ini ditampilkan dalam kehidupan Nararya, seorang terapis di mental health centre.

Nararya adalah perempuan yang menjalani pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Namun terkadang pekerjaannya pun memberi tuntutan yang cukup berat. Ada tiga orang pasien yang menyita perhatian Nararya secara personal. Mereka adalah Pak Bulan, Sania, dan Yudhistira. 


Pak Bulan adalah sosok laki-laki tua yang sangat mencintai purnama dan mawar. Dengan mendengar monolog Pak Bulan, Nararya sering merasa diingatkan bahwa akan selalu ada purnama yang datang. Keyakinan semacam itulah yang harus tetap dipupuk Nararya. Bahwa akan selalu ada jalan keluar yang datang.

Sania adalah gadis kecil yang dibawa ke mental health centre oleh dinas sosial. Gadis kecil itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan, luka dan lebam di tubuhnya. Gadis ini kemudian menyedot perhatian Nararya karena perkembangan yang terjadi dalam dirinya.

Lain lagi dengan Yudhistira. Polemik dalam keluarga Yudhistira muncul kepermukaan saat Nararya menyampaikan bahwa Yudhistira sudah bisa pulang. Memang tidak dikatakan sembuh, namun sudah lebih mampu berkomunikasi dan tidak lagi mudah kambuh. Berita ini ternyata tidak disambut dengan gembira melainkan dengan kecemasan yang membuat Nararya hanya bisa mengelus dada.

Kini, ditambah lagi dengan masalah pribadinya. Angga – laki-laki yang sempat menjadi suaminya selama sepuluh tahun – akhirnya  menikah dengan Mozza, perempuan yang dianggapnya sahabat yang sekaligus rekan kerjanya. Berada di posisi Nararya jelas tidak mudah. Ia masih harus terus berinteraksi dengan Mozza tapi dengan ekstra hati-hati. Hingga suatu hari Mozza menyampaikan pengunduran dirinya karena alasan kehamilan. Mozza hamil anak Angga. Hal yang dinanti Nararya selama sepuluh tahun pernikahannya. Mozza akan memberi apa yang tidak bisa diberikan Nararya untuk Angga. Namun anehnya, Angga seolah tidak bisa melepaskan Nararya. Laki-laki itu tetap memberi perhatian pada Nararya. Hal ini terang membuat Mozza marah dan melabrak Nararya.

Dan sampailah Nararya di titik kulminasi. Saat ia pun mulai ketakutan akibat teror yang muncul. Awalnya banyak orang yang mengira bahwa depresi membuat Nararya berhalusinasi. Namun saat kejadian itu kembali lagi, Nararya pun berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan halusinasi. Ia masih bisa membedakan antara yang nyata dan ilusi. Lantas jika itu bukan ilusi, siapa yang meneror Nararya menggunakan mawar dan darah itu?

***

“Apakah tak pantas sebuah niat baik mendapat tempat walau memakan waktu panjang? Apakah segala sesuatu yang praktis dan pragmatis lebih memiliki peluang?” (hal.10)
Membaca Bulan Nararya memberi banyak informasi tentang skizophrenia. Melalui sudut pandang orang pertama, pembaca mengikuti pergulatan batin seorang yang memahami ilmu kejiwaan. Pekerjaan sebagai terapis tidak membuat Nararya bisa dengan mudah mengendalikan emosinya sendiri. Apalagi di tengah hubungan cinta segitiga antara dirinya, Angga, dan Mozza. Harus ia akui bahwa ia masih mencintai Angga. Belum mampu menghapus kenangan dengan mantan suaminya tersebut. Hal ini yang membuat Nararya semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Nararya menyadari bahwa masalah pribadinya mulai mengganggunya. Ia sendiri mulai menyadari bahwa depresi mulai menghantuinya. Ia mulai kesulitan tidur. Sulit fokus. Terutama setelah mengetahui Mozza hamil dan perempuan itu datang marah-marah karena mengetahui komunikasi antara dirinya dan Angga. Ia sendiri jadi bertanya-tanya apakah selama ini cara ia mencintai Angga salah? Ia tidak pernah mengkonfrontasi langsung perempuan-perempuan yang punya hubungan dekat dengan Angga. Ini karena ia menyadari bahwa Angga akibat masa lalunya, selalu merasa membutuhkan kekaguman dari orang lain. 

“Apa aku yang salah, dalam mencintai Angga – seperti kata Moza – terlalu meloggarkan ikatan? Apa seharusnya sebagai bukti cinta, kita juga harus melindungi dan menuntut batasan?” (hal. 222)

 “Namun, cinta saja tak cukup untuk menjembatani. Hubungan cinta kasih juga membutuhkan pengalaman dan skill atau keahlian. Kau bisa saja mengatakan mencintai pasanganmu dengan sangat, tapi apakah caramu sudah cukup ahli untuk membuatnya terkesan, atau justru menjauh dan tertekan?” (hal. 57)
Kondisi Nararya ini membuat Ibu Sausan, pemilik mental health centre tempatnya bekerja yang juga terapis senior, memberikan saran dan mengingatkan Nararya bahwa “Terapis yang hebat, bukan mereka yang mampu menangani segala. Tapi yang tahu kapan harus meminta bantuan dari orang lain, di titik tertentu.” (hal. 101) Ibu Sausan juga terus mendorong Nararya agar tidak semakin terpuruk dalam masalah yang menimpanya. Katanya, “Otakmu harus diasah oleh hal-hal berbau kognisi, bukan senantiasa memelihara memori.” (hal. 85) Dan saat Nararya kebingungan dengan perhatian yang diberikan Angga padanya, Ibu Sausan mengingatkan agar saat membaca pesan dari Angga bahwa, “Kesukaanmu mencari apa yang tersembunyi di belakang, akan menyulitkan. Pakai saja konsep here and now. Apa yang ada di hadapanmu, itu saja.” (hal. 93)

Di lain bagian, saat diceritakan tentang konflik yang muncul di tengah keluarga Yudhistira, maka melalui kaca mata seorang Nararya, pembaca melihat sebuah diskriminasi yang diterima oleh mereka yang mengalami gangguan mental. Saat keluarga dengan senang hati menerima kabar kesembuhan anggota keluarga lainnya yang terkena penyakit kanker, ginjal, dan sebagainya; namun lain halnya ketika yang dinyatakan sudah boleh pulang adalah penderita gangguan mental. Buka suka cita yang nampak melainkan cemas. Seolah kepulangan mereka akan menjadi gangguan bagi anggota keluarga lainnya. Inilah yang dianggap Nararya sebagai benturan yang bisa melukai penderita mental tersebut.

Bila luka luar yang mengering harus demikian diperlakukan berhati-hati agar tak mengalami benturan dan sobek di tempat yang sama, bagaimana luka hati penyandang gangguan mental yang kembali ke tengah keluarga? Bukan saja dibenturkan, luka hatinya seringkali disentuh berulang, dikoyak, dibuka lagi dan lagi.” (hal. 52)
Selain itu di dalam novel ini, penulis mencoba meluruskan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat tentang kondisi di dalam tembok sebuah pusat rehabilitasi dan perawatan yang diperuntukkan bagi mereka yang mengalami gangguan mental. Selama ini film-film terutama sinetron-sinetron Indonesia lebih banyak menggambarkan bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang yang bersifat agresif pada orang-orang di sekitarnya. Padahal pada dasarnya penderita skizophrenia tidak akan bereaksi kecuali ada yang menjadi pemicunya.

Di dalam novel ini, secara tersurat saya menangkap tentang kekuatan sebuah pelukan, kesabaran dan kasih sayang untuk membantu pemulihan orang-orang yang mengalami gangguan mental. Hal ini amat nampak dari cara yang digunakan Nararya dalam menangani Sania. 

Di dalam novel Bulan Nararya ini juga digambarkan bagaimana tokoh utama menyerap banyak hikmah dan pelajaran dalam interaksinya bersama pasien-pasiennya. Terkadang benak Nararya dipenuh pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang membuat pasien-pasiennya dianggap tidak normal. Lantas bagaimana dengan dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang dikategorikan normal? Apa yang membuat mereka pantas dikatakan normal?
“Apa seseorang dianggap tak normal dikarenakan dia mengekspresikan sesuatu dengan cara yang berbeda? Apa manusia menganggap seseorang waras hanya karena dia seperti orang kebanyakan?” (hal. 32)
Cerita yang dituangkan dalam Bulan Nararya ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap manusia bisa jadi punya potensi untuk mengalami skizophrenia. Tapi kekuatan mental masing-masing oranglah yang menjadi penentu.
“Ibarat imunitas, manusia perlu disuntik virus tertentu. Tubuhnya akan membentuk antibodi. Jika suatu saat terpapar lagi, tubuhnya lebih kuat mengantisipasi. Begitupun kepribadian kita. Coba nikmati setiap rasa sakit agar perasaan-ingatan-pengetahuan kita belajar dari apa yang terjadi. Kepribadian menjadi kuat, dan kita siap dalam priode yang akan datang.” (hal. 225)
Sayangnya, bahasan tentang metode transpersonal yang jadi pembuka dan penutup di dalam novel ini tidak tereksplorasi dengan baik di dalam cerita. Metode ini hanya menjadi semacam tempelan yang dipaparkan secara naratif dan edukatif saja. Tidak tersentuh dalam konflik yang dibangun dalam cerita. Yang hadir malah pemahaman betapa pelukan dan pengertian orang-orang di sekitar penderita skizophrenia punya peran penting dalam proses terapi penderita tersebut.

Selain itu ada beberapa kesalah penulisan di dalam buku ini, yang memang sulit dihindari dan cukup mampu diminimalisir. Contohnya ada kesalahan penulisan yang cukup jelas di halaman 208 saat menyebutkan bahwa Yudhis mengajar kelas menulis. Yang tepat adalah kelas melukis seperti yang tergambar di halaman 141.

Sedikit yang kurang diketengahkan oleh penulis malah kehidupan pribadi Nararya. Pergulatan batinnya lebih banyak disajikan namun gambaran kehidupannya lebih sering menggunakan metode telling bukang showing.
Tapi secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Terutama karena diksinya sangat manis dan tidak klise. Tidak membuat bosan dan penuturannya mengalir dan mudah dipahami.

“Waktu yang merangkak, nikmat bila bersama buku. Kawan terbaik yang tak pernah menyanggah. Kalimat – kalimat bermakna yang muncul dari halaman – halaman, penulis yang berusaha merangkum perenungannya akan perjalanan hidup, mengolah fantasi dan kebijakan, juga mencari ilmu pengetahuan. Aku tenggelam, turut menangis dan tertawa bersama penulisnya yang mencoba bertutur betapa sarat makna tiap detika yang dilalui.” (hal. 42)

2 komentar:

  1. wah, atria bisa menemukan kekurangan novel ini, saya saking terpesonanya sampe gak nemu, hehe

    BalasHapus
  2. Pengen kali baca buku ini. Apalagi ini novel dengan muatan psikologi. Harus beli di tahun 2015 :D

    BalasHapus