Sabtu, 13 Desember 2014

Dunia Anna: Kisah Gadis yang Menemukan Sebuah Kesadaran Kosmik



“Memang benar apa yang dikatakan pada politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun , banyak juga orang-orang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah.” (hal.73)

Judul Asli: Anna. En fabel om klodens klima og miljo
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Oktober 2014
Jumlah halaman: 245 halaman

“Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi kami!” (Hal. 50)

Kalimat itu adalah luapan kemarahan cicit Anna yang bernama Nova. Ia tengah menggugat generasi sebelumnya atas haknya yang hilang. Yakni hak untuk menikmati keanekaragaman hayati serta hak untuk menikmati bumi yang nyaman untuk ditinggali. Akankah gugatan seperti itu akan kita dengarkan kelak? Gugatan yang datang dari generasi penerus kita. Apa yang mampu kita jawab pada mereka?

Dalam novel karya Jostein Gaarder ini, dikisahkan tentang Anna, seorang gadis yang tengah menanti peringatan ulang tahunnya yang ke-16. Dua hari sebelum ulang tahunnya, Anna mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpinya ia hidup sebagai Nova, cucu buyutnya, yang hidup di tahun 2028. Saat itu, ia sebagai Nova menemukan bahwa hanya sedikit flora dan fauna yang eksis di bumi. Ini jelas berbeda jauh dengan bumi yang dikenal oleh Anna pada tahun 2012.

Selanjutnya, dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Jostein Gaarder mengisahkan tentang kondisi bumi di dua kurun waktu tersebut secara bergantian. Ia menampilkannya sebagai dunia Anna dan dunia Nova. Dunia saat “bibit kepunahan” berbagai jenis keanekaragaman hayati mulai muncul dan dunia saat kepunuhan itu nyata adanya.

Selain itu, dalam novel ini Jostein Gaarder menampilkan tentang perkembangan teknologi informasi dan transportasi. Tentang kualitas gambar dan suara yang mampu dihasilkan oleh teknologi informasi yang persis seperti aslinya. Sayangnya, di masa yang sama semua keindahan yang layak diabadikan telah menghilang. Sehingga gambar-gambar tersebut kelak disebut sebagai “fosil foto”.  Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahwa spesies-spesies yang punah di alam berhasil “diselamatkan” secara optikal. Ini jelas sebuah ironi.
 ***


Kisah-kisah yang diceritakan oleh Jostein Gaarder tentang bumi yang dihuni oleh Nova  mungkin saja terjadi. Sebab sesungguhnya, keadaan bumi tempat kita berpijak memang tengah “kritis”. Kondisi yang kita kenal sebagai pemanasan global semakin menampakkan efeknya. Berbagai fenomena alam yang tidak wajar semakin banyak terjadi. Contoh termudah adalah perubahan iklim yang terjadi.

Tulisan Dr. Edvin Aldrian yang diunggah di website resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengemukakan data peningkatan suhu muka bumi di beberapa kota besar Indonesia antara lain di Jakarta, antara 1,04 – 1,4°C/100 tahun, Cilacap antara 3,38 – 3,41°C/100 tahun, Medan antara 1,55 –1,98°C/100 tahun, Surabaya antara 1,46 – 3,29°C/100 tahun, Bau Bau hingga 3,63°C/100 tahun dan Makassar antara 1,84 – 2,83°C/100 tahun.  Serta data peningkatan paras muka laut tercatat diantaranya di Cilacap 1,3 mm/tahun, Belawan 7,8 mm/tahun, Jakarta 4,38 – 7,00 mm/tahun, Semarang 5,00 – 9,37 mm/tahun, Surabaya 1,00 mm/tahun, timur Sumatera 5,47 mm/tahun dan Lampung 4,15 mm/tahun. 

Perubahan ini jelas tidak dapat dianggap remeh sebab peningkatan suhu ini akan mempengaruhi laju penguapan yang kemudian menyebabkan perubahan pola curah hujan serta perubahan pola musim. Selain itu kondisi ini akan meningkatkan potensi kekeringan di saat musim kemarau datang dan potensi banjir saat musim penghujan.

Dalam karya ini juga, Jostein Gaarder mengemukakan sejumlah fakta dan data serta penjelasan ilmiah tentang hal yang tengah terjadi di muka bumi ini akibat ulah manusia. Dengan gayanya yang khas yang juga muncul di karya-karyanya yang lain -Dunia Sophie, Misteri Soliter, Gadis Jeruk- Jostein Gaarder mengajak pembacanya untuk melakukan berbagai perenungan tentang makna kehadirannya di muka bumi. Salah satunya tentang kewajiban kosmik. Kesadaran bahwa manusia sebagai satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kesadaran universal punya kewajiban untuk menjaga kelestarian sumber kehidupan di planet ini. Alasannya berusaha ia kemukakan dalam penjelasan panjang yang diakhirinya dengan sebuah simpulan menarik yakni, “... akar asal dan kekeluargaan kita dengan tanah jagat raya ini begitu substansial dan mendalam”(hal. 102)

Dealektika yang dihadirkan oleh Jostein Gaarder tentang kesempurnaan manusia sebagai makhluk yang hidup di muka bumi dibandingkan makhluk lain dengan kondisi manusia yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran makhluk lain pun menarik untuk ditelaah. Kita mengenal rantai makanan sebagai penjelasan paling simple dari hal tesebut. Namun penulis memilih menyebutkan tentang bakteri. Adanya kebutuhan manusia pada jenis bakteri tertentu menjadikan bakteri memiliki arti kosmik.

Ada hal menarik lain yang ditampilkan dalam novel ini. Ada sebuah ironi di dalamnya. Jostein Gaarder malah melakukan hal yang dikritisi oleh tokoh rekaannya, Jonas, dalam sebuah makalah yang ditulisnya tentang bagaimana keikutsertaan masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati. Tokoh Jonas menyebutkan bahwa, “tidaklah berguna mengusik rasa bersalah tiap-tiap individu karena dia mengemban sepersemiliar bagian dari kewajiban untuk masa depan Bumi”. Sedangkan buku ini dengan sangat jelas diisi dengan sarkasme-sarkasme akan sikap tidak peduli yang telah tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ketidakpeduliaan atas alam dan atas hal-hal yang tengah terjadi di sekitar kita akibat bumi yang semakin “sakit”.

Dalam pandangan kita sekarang, tentu saja gila kalau percaya bahwa Bumi adalah pusat dari alam semesta dan seluruh benda langit lainnya berputar mengelilingi planet kita. Namun, apakah tidak sama gilanya hidup dengan cara seakan-akan kita memiliki beberapa bumi untuk dihamburkan dan bukan yang satu-satunya ini yang harus kita bagi bersama?” (hal. 159)
***

Dalam novel Dunia Anna ini, banyak ditampilkan kutipan-kutipan berita dan koran yang seolah-olah dibaca oleh Anna. Sayangnya sumber data-data tersebut tidak ditampilkan dalam catatan kaki. Bahkan di akhir buku ini tidak ada daftar pustaka yang dapat digunakan sebagai penguat gagasan atau data-data yang disampaikan oleh Jostein Gaarder.

Namun di luar kekurangan tersebut, sekali lagi Jostein Gaarder menampilkan kekuatan berceritanya. Dengan menampilkan tokoh utama yang berusia masih muda, ia menampilkan filsafat sebagai hal yang tidak sulit dipahami sebab tokoh rekaannya tersebut mampu menampilkan pertanyaan-pertanyaan lugu yang acapkali diabaikan oleh orang-orang dewasa. Sosok muda ini memiliki ketakutan yang tidak dimiliki orang dewasa. Tokoh muda ini juga memiliki imajinasi yang sudah mulai memudar dalam diri orang dewasa.

Melalui novel Dunia Anna ini Jostein Gaarder berhasil menyajikan sebuah karya yang sangat mendalam. Mengetengahkan fakta-fakta dan pertanyaan-pertanyaan yang berusaha menggugah kesadaran manusia untuk mengenali dirinya sendiri dan makna kehadirannya di muka bumi.

***
 Puisi yang terinspirasi dari buku ini kali ini agak panjang dan saya tuliskan di blog pribadi saya. Sila baca Sampaikan Maafku Pada Generasi Masa Depan

8 komentar:

  1. Wow.. ini semacam science fiction ya. pasti berat deh bacanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Aslinya gak berat. cuma memang banyak data di dalamnya :D

      Hapus
    2. ringan kok mudah dipahami juga.

      Hapus
  2. wah, harusnya baca novel ini dulu sebelum nulis trinil ya, hehe

    BalasHapus
  3. Ini dai penulis Dunia Sophie yang kabarnya bacaan berat itu, kan? jadi beliau menulis sci-fi juga? Wow keren ya. tapi aku belum perna baca buku-bukunya sih

    BalasHapus
  4. wow.. lihat review Atria yang bagian bawah itu langsung terpikir satu hal: novelnya keren tapi lumayan berat :D

    BalasHapus
  5. Sudah masuk di wishlist ku tapi belum sempat beli u.u

    BalasHapus