Minggu, 21 Desember 2014

Meski Cinta Saja Tak Pernah Cukup



“Mencintai pasangan hidup kita itu adalah pilihan kita sendiri.” (hal. 290)


Penulis: Deasylawati P
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil ‘Ula 1435 H./ Maret 2014
Jumlah hal.: 368 halaman
ISBN: 978-602-1614-07-5

Dunia Yunan berubah 180 derajat saat dia menikah dalam kondisi yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Silmi, teman sekantor Yunan yang idealis itu jadi istri ‘tak terduganya’. Antara kaget, bingung bercampur senang Yunan menjalani kehidupan barunya bersama Silmi, wanita yang diam-diam membuat hatinya selalu bergetar.

Tapi, perjalanan rumah tangga keduanya tak seindah agama. Yunan menyadari bahwa Silmi belum bisa  melupakan lelaki yang ‘hampir’ menjadi suaminya. Dan kenyataan bahwa Silmi masih dan semakin dekat dengan mantan calon suaminya itu membuat Yunan ingin mundur dalam perjuangan cintanya. Di satu sisi, Silmi yang mulai membuka hatinya pada Yunan harus menerima kenyataan bahwa ada hati lain yang sudah lama memendam rasa kepada suaminya.

Akankah cinta sanggup membawa bahtera Yunan dan Silmi berlayar hingga ke pelabuhan bernama bahagia?

***


“..., ibaratnya sekarang ini kamu sudah maju perang. Maka apa pun yang terjadi, cobalah untuk bertahan, jangan pernah menyerah terlalu dini. Tantangan di depan itu tidak akan terlewati kalau tidak dihadapi.” (hal. 235)


Apa jadinya jika kondisi membuatmu menikahi laki-laki yang awalnya tidak pernah terbayangkan akan menjadi pendamping hidupmu? Bagaimana jika perempuan yang kamu nikahi malah sibuk mengakrabkan diri dengan laki-laki yang sempat melamarnya?

Inilah dua sisi yang terjadi antara Yunan dan Silmi. Silmi yang karena sebuah kondisi, batal menikah dengan pria “Senyuman surya” yang membuatnya kagum. Ia masih belum mampu mengenyahkan rasa hangat yang muncul setiap kali melihat senyum itu. Meskipun dia sudah memiliki suami. Daniar, nama pria “senyum surya” tersebut. Ternyata mereka memiliki hubungan darah dan itulah yang membuat Silmi dan Daniar batal menikah hingga akhirnya Yunan muncul untuk menikahi Silmi agar keluarga Silmi tidak menanggung malu karena tamu undangan sudah datang untuk menyaksikan akad nikah.

Setelah menikah, Silmi malah meminta kepada Yunan agar pernikahan mereka dirahasiakan sampai resepsi yang akan diadakan sebulan kemudian. Alasannya karena Silmi dan Yunan teman sekantor. Namun ternyata saat meminta jarak dengan Yunan, Silmi malah semakin dekat dengan Daniar. Keduanya kembali saling mengenali setelah terpisah selama 20 tahun. Selain itu, tanpa terduga teman sekantor Silmi dan Yunan yang bernama Dellia bercerita pada Silmi bahwa ia jatuh cinta pada Yunan. Namun Silmi tidak bisa memberi komentar sebab ia masih ingin merahasiakan hubunganya dengan Yunan. 

Setelah resepsi, Yunan dan Silmi tinggal dalam rumah yang sama. Rumah tersebut adalah hadiah dari Daniar untuk adiknya dan adik iparnya. Yunan tidak nyaman dengan hal tersebut. Rasa tidak suka Yunan semakin bertambah ketika Silmi lebih sering menghabiskan waktu dengan Daniar daripada dirinya. Ia merasa bahwa Silmi tidak mau berusaha untuk hubungan mereka berdua.

Di lain pihak, Silmi tidak bisa menghapus pendapat awalnya tentang Yunan. Selama menjadi teman sekerja, Silmi selalu menganggap Yunan kekanak-kanakan. Ternyata setelah menikah ia pun tidak bisa melepaskan stigma. Apatah lagi saat menyadari betapa tidak teraturnya Yunan. Ini jelas sangat bertolak belakang dengan Silmi yang rapi, teratur dan bahkan cenderung perfeksionis.

Hubungan keduanya pun dalam persimpangan. Silmi tidak bisa berhenti menjadikan Daniar sebagai pahlawannya. Di waktu yang sama Dellia datang menyampaikan keinginannya untuk membahagiakan Yunan, hal yang dituduhkan Dellia tidak mampu dilakukan oleh Silmi.

Jelas di saat itulah terasa bahwa “cinta saja tak pernah cukup” dalam menjalani bahtera rumah tangga. Apalagi jika mengharapkan sakinah mawaddah warahmah.

***

“..., kau tidak akan pernah bisa menyeberangi lautan jika hanya memandanginya saja,” (hal. 235)

Hm.. Kalimat “cinta saja belum cukup” acap kali terdengar saat membicarakan pernikahan. Ini sering menjadi petuah yang diberikan oleh mereka yang sudah menikah. Bahkan tidak sedikit orang tua yang mengingatkan anaknya yang tengah mabuk kepayang bahwa menjalani kehidupan berumah tangga itu tidak mudah sehingga pertimbangkanlah dengan matang saat memilih suami. Lantas bagaimana jika berada di posisi Silmi yang hampir tidak punya pilihan untuk menolak?

Novel ini dibuka oleh prolog cerita tentang kakak beradik yang tanpa sengaja terpisah. Kemudian cerita di-fast forward ke masa 20 tahun kemudian. Prolog cerita sebenarnya berhasil menjerat pembaca untuk menebak kelanjutan nasib kedua anak tersebut. Cerita masih memikat sampai cerita saat Daniar menduga bahwa Silmi adalah adik kandungnya setelah mendengar cerita Pak Rauf, paman Silmi, yang menemukan Silmi 20 tahun lalu. Setelah itu saya sering kali dibuat gereget oleh sikap tokoh-tokohnya. Seperti saat Pak Rauf ngotot ingin Daniar tetap menikahi Silmi meskipun dia juga menduga bahwa Silmi kemungkinan besar adalah adik Daniar. Kemudian saya dibuat kesal berkepanjangan dengan sikap Silmi pada Yunan. Bagaimana mungkin seorang istri bisa sekeras hati itu pada suaminya?

Sebenarnya dalam hal penokohan, ada logika yang terasa aneh. Bagaimana mungkin seorang Silmi yang pemahaman agamanya baik hingga menjaga pergaulannya dengan pria yang bukan mahramnya bisa bersikap sedurhaka itu sebagai istri. Bagaimana ia mampu berusaha menjaga diri dalam pergaulan jika ternyata ia tidak mampu memaksakan diri untuk berbakti pada suaminya? Apa tokoh Silmi ini adalah perempuan yang tidak paham tentang kewajiban seorang istri dalam Islam? Ini menjadi sebuah kejanggalan tersendiri.

Namun di dalam novel ini juga ada tokoh yang berkembang secara dinamis. Tokoh Yunan adalah tokoh yang paling terasa mengalami perubahan bersama konflik. Tidak melulu berkembang maju. Yunan sempat mengalami kemunduran yang membuatnya meragukan kemampuan ia dan Silmi untuk mempertahankan rumah tangga mereka.

Konfliknya sebenarnya sudah bagus. Bikin greget pengen ngomelin Silmi. Tapi masih ada beberapa hal yang belum tereksplore dengan baik.  

Buku ini cukup menarik untuk dijadikan teman membaca saat topik pernikahan sedang diminati (^_^)

 ***

 “ Silmi, ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan pilihan, itu kesempatan. Ketika kita bertemu dengannya dalam suatu persitiwa, itu juga bukanlah pilihan, itu adalah kesempatan. Dan ketika kita bertemu dengan orang yang tepat untuk dicintai, itupun, sekali lagi, Silmi, bukanlah pilihan, itu adalah kesempatan. Akan tetapi, Silmi sayang, bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan lagi kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walau apa pun yang terjadi, itupun adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasangan kita, dan kita tetap memilih untuk bersamanya, dan tetap mencintainya, itulah pilihan.” (hal. 287)

11 komentar:

  1. Hehe... pemahaman nggak akan cukup kalau hatinya menolak mengamalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, nih.. Jadinya greget banget sama tokoh Silmi..ha..ha..

      Hapus
  2. kayanya ini novel deasy pertama yg tema ini, sebelumnya pernah baca yg livor mortis sama apa gitu judulnya, tapi keduanya bukan tema pernikahan....as usual, reviewnya selalu keren, padat tapi jelas maksudnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga buku pertama Deasy pertama yang saya baca, Mbak :D
      Jadi gak bisa ngebandingin dengan karyanya yang lain

      Hapus
  3. Sepertinya Deasy ini penulis langganan Indiva ya. Enak bener ya klo udah jadi langganan penerbit, novelnya diterbitin terus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepertinya begitu, Mbak :D
      Mbak mah nggak usah jadi langganan penulis, tapi bukunya terbit terus di mana-mana :D

      Hapus
  4. Nice review mba..
    Tapi saya yg baca reviewnya aja gregetan sama tokoh Silmi, kok bisa masih kekanakan dan egois banget padahal sudah nikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Tapi itu juga yang bikin ngelanjutin bacanya. Sampai kapan dia begitu? Karena apa dia insyaf?

      Hapus
  5. Kalimat pertama ketemu sama kata 'Yunan', hampir aja kukira ini novel dengan setting di Tiongkok, rupanya nama tokohnya tho, xixixiii...
    Covernya maniiis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha..ha..sama, saya pikir malah bakalan bersetting di China awalnya. Pas baca lengkap cuma bisa nyengir :D

      Hapus
  6. Wah, resensinya menarik sekali, Atria. jadi penasaran dengan bukunya.

    BalasHapus