Senin, 01 Desember 2014

Pacarmu Belum Tentu Jodohmu



"Masa remaja itu waktunya untuk belajar & menempa diri, bukan waktunya untuk pacaran" (hal.120)

Penulis: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
Penyunting: Radindra Rahman
Pendesain sampul: Adam S. Muhsinin
Ilustrator: MEDZ
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Wahyu Qolbu
Cetakan: I, 2014
Jumlah hal.: x + 206 halaman
ISBN: 979-795-877-9

Pacaran bagi kebanyakan remaja mungkin mengasyikkan. Tapi tahukan kamu? Islam itu tidak mengenal pacaran, Bro/Sist. Karena pacaran merupakan perbuatan yang mendekati zina. Lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Kamu mungkin menganggap, pacarmu adalah segalanya. Berpikir, kalau si doi udah pasti akan menjadi pendampingmu kelak. Sampai-sampai memanggilnya pun udah Mama-Papa, bahkan nggak sedikit yang udah berani ngelakuin hubungan intim layaknya suami-istri. Astagfirullahal adzim. Apa kamu nganggep hal ini biasa, Bro/Sist? Hadeuh... hadeuh... *Nepok jidat*
Ingat dong Bro/Sist, PACARMU ITU BELUM TENTU JODOHMU! Jangan sampai deh nyerahin segalanya. Yang udah pasti banyak ruginya itu di pihak cewek, lho, Sist! Begitu cowokmu udah bosan, kamu ditinggalin begitu aja, dalam keadaan hamil pula. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kalau udah kayak gini, siapa coba yang bakal ikut nanggung aib? Orangtua kamu juga, ‘kan? Emangnya kamu nggak kasihan sama orangtuanyamu?? Jadi, udah deh nggak usah pacaran, Bro/Sist. Lebih banyak sia-sianya. Tapi kalo kamu udah terlanjut pacaran, ya udah putus aja sekarang!

Buku ini memotret kondisi nyata pergaulan masyarakat remaja saat ini. Penulis menyusun buku ini berdasarkan pengalamannya dalam membimbing dan menerima konsultasi dari para remaja seputar pacaran. Melalui buku ini, penulis ingin berbagi kiat kepada para remaja agar tidak galau soal pacaran dan memberi solusi tentang indahnya menikah tanpa pacaran.

***

Buku Pacarmu Belum Tentu Jodohmu karya Muhammad Syafi’ie el-Bantanie ini adalah sebuah tulisan non-fiksi yang diperuntukkan untuk remaja. Fokusnya?? Apalagi kalau bukan “virus merah jambu” atau asmara. Di masa kini, tontonan dan bahkan bacaan yang digandrungi oleh para remaja di Indonesia lebih sering mengenalkan kegalauan hati pada para remaja. bahkan tidak sedikit “virus aneh” yang ditularkannya seperti pakai “make-up” sejak remaja, minum minuman beralkohol, merokok, hingga free sex. Bahkan tidak jarang semua perilaku ini ditampilkan sebagia bagian dari perilaku orang-orang populer. Menempelkan kesan “keren” pada semua perilaku itu. Ya Rabb.. (-_-“)


Buku ini dibuka dengan sejumlah fakta berupa cuplikan berita tentang orang-orang yang berpacaran. Tentang pemudi usia 17 tahun yang harus mengalami kehamilan dan kemudian menggugurkannya; tentang kekhawatiran dan keterikatan perempuan yang sudah menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang ia pikir mencintainya; tentang perempuan yang terjangkit HIV; tentang perempuan yang meninggal di tangan mantan kekasihnya; semua itu karena mereka kenal aktivitas pacaran. Mungkin di luar sana masih ada kisah-kisah lainnya. 

Setelah memaparkan kisah-kisah itu, penulis kemudian mulai menampilkan bahwa pacaran adalah aktivitas yang lebih banyak mudharatnya terutama bagi para remaja. Bisa mengganggu konsentrasi belajar, bikin capek hati, bahkan sampai membuat dompet kosong. 

Di Chapter 6: Sia-sianya Pacaran penulis juga membantah sejumlah argumen tentang manfaat pacaran. Seperti, pacaran itu penjajakan sebelum serius, jawaban penulis?? “Bayangkan kamu sudah pacaran sekian tahun, katanya untuk penjajakan sebelum menikah. Beberapa waktu kemudian, kamu putus. Bayangkan betapa sia-sianya  masa bertahun-tahun yang kamu lewati dengan pacar. Dalihnya masa penjajakan, tapi nyatanya bubar.” (hal. 39)

Bab-bab berikutnya pun selalu mengajak pembaca untuk menjauhi pacaran serta menganggap bahwa status “jomblo” sebagai kebanggaan bukan hinaan. Bagi yang sudah berpacaran didorong untuk memutuskan hubungan dengan sang pacar dan beralih menjadi jomblo berprestasi.

Kemudian menginjak bahasan Kalo Lu Cinta, Lamar Gue hal yang disampaikan penulis menjadi lebih serius. Membahas tentang menikah. Yang kemudian dilanjutkan dengan bahasan lain terkait pernikahan. Hingga akhirnya ditutup dengan Doa Penarik Jodoh.

***

Selama membaca buku ini, saya merasa bahwa meski peruntukannya untuk remaja, namun di beberapa bagian bahasanya masih terlalu serius dan kaku. Akhirnya, saya pun mencoba meng-googling tentang rentang usia yang tergolong remaja. Ternyata ada yang menyebutkan bahwa remaja itu dari usia 12 tahun hingga 21 tahun. Ok, ini membuatnya jadi cukup jelas. Tapi tetap saja peruntukan buku ini jadi terlalu luas.

Ini membuat buku ini di beberapa bagian menjadi tidak menarik sedang di bagian tertentu jadi cukup menarik. Bagi usia remaja yang masih sekolah, buku ini sejak halaman 1 sampai 119 akan mampu diikuti dengan baik. Namun begitu membaca halaman  123 sampai akhir akan terasa kurang relevan. Sebab mereka masih di usia sekolah yang rasanya pertimbangan menikah itu masih harus ditunda hingga sekian tahun.

Sedangkan yang berusia 19 tahun ke atas atau yang telah lulus dari sekolah Menengah Atas (atau sederajat) akan cenderung lebih tertarik dengan pembahasan di akhir-akhir buku ini. Sebab bayangan tentang pernikahan sudah mulai berkelebat.

Selain hal di atas, saya mendapati ada repetisi (pengulangan) pembahasan yang sangat terlihat yakni di bagian Pacaran Membawa pada Maksiat Sedangkan Nikah Membawa pada Taat dengan bagian Pacaran Ngabisin Uang Sedangkan Nikah Datengin Uang. Keduanya membahas tentang hubungan  tangung jawab dengan rezeki yang diberikan oleh Allah. Repetisi ini jadi terlalu terasa karena dekatnya bab pembahasan tersebut. Meski saya paham bahwa repitisi ini memang diperlukan untuk saling mendukung dan tetap mengingatkan pembaca tentang keyakinan bahwa jika niatan menikah sudah baik maka rezeki untuk memudahkan menuju proses tersebut dan bahkan setelah menikah akan semakin dimudahkan.

Hal lain yang saya temukan adalah ada beberapa dalil yang menggunakan hadist, namun tidak menyebutkan jenisnya apakah hadist tersebut shahih, hasan, atau dhaif. Ini saya rasa penting untuk menghindari keraguan dari pihak lain yang mengambil dalil berbeda. Oiya, untuk bagian Doa Penarik Jodoh sebaiknya diberi tahu do’a ini dicontohkan oleh siapa atau diambil dari hadist apa, dsb. Sebab berdo’a pun ada adabnya dan contohnya (^_^)v

Tapi di luar itu semua, secara tampilan, buku ini sudah menarik dengan adanya beberapa gambar komik atau karikatur yang sesuai dengan isi bab tersebut. Serta isi buku yang kadang berwarna. Selain itu karena bahasan di setiap bab cukup singkat, ini membuat kejenuhan jadi berkurang.

Oiya, di pembahasan tentang Mahar mungkin ada baiknya jika ditambahkan tentang bagaimana memahamkan keluarga (terutama keluarga pihak perempuan) tentang  mahar yang memudahkan. Karena di banyak kasus, keluarga perempuanlah yang menetapkan nilai mahar, bukan personal perempuan yang dilamar tersebut.

Saya rasa ini sudah cukup. Buku ini ide dan pembahasannya sudah menarik. Cuma perlu lebih fokus lagi rentang pembacanya. Sehingga isi buku bisa disesuaikan. (^_^)v


8 komentar:

  1. belakangan tema ini ngetrend lagi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena semakin banyak yang prihatin sama kondisi remaja sekarang kali, Mbak. Jadi ngebahas masalah ini dirasa makin perlu.

      Hapus
  2. Subhanallah, teliti banget Atria sampe ke dalil hadistnya pun diperhatikan. Jadi masukan juga buat saya kalau mau nulis nonfiksi islami lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. karena terbiasa baca buku-buku Islam non-fiksi yang rada serius, jadi agak tahu tentang jenis-jenis hadist, Mbak. Dan beberapa kali lihat perdebatan karena perbedaan dalil yang digunakan (^_^)v

      Hapus
  3. Buku-buku jenis ini lagi booming ya tahun ini. Buku yang membahas tentang hubungan tak halal berupa pacaran. yang paling terkenal ya yang dari ust Felix ya, hehee

    BalasHapus