Rabu, 31 Desember 2014

Rengganis: Altitude 3088



“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (Hal. 216)

Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Ilustrator: Naafi Nur Rahma
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-1614-26-6
Dia baru saja menyelinap keluar. Terbangun oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh penghuni kerajaan sang dewi telah tertidur.

Padangannya lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam. Sangat tajam. Menatap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tidur di dalam tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkah-langkah pasti. Dermaga tua itu tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya. Memanggil-manggilnya dengan suara tak biasa.
 
Rengganis, pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?

Hingg pagi hari datang, anak muda itu tak pernah kembali lagi ke tenda....

***

“A traveler without observation is like a bird without wings” (hal. 120)

Serombongan pemuda(i) berkumpul di Surabaya untuk memulai pendakian mereka ke Pegunungan Hyang. Lima laki-laki dan tiga perempuan yang menjadi satu tim dengan tujuan yang sama : menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Fathur, Dewo, Dimas, Rafli, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Delapan orang ini punya sifat yang berbeda-beda. Acil yang paling paham medan yang akan mereka lalui ditunjuk menjadi guide. Dewo didaulat menjadi pimpinan regu. Fathur sebagai asistennya. Nisa sebagai bendahara dan Ajeng sebagai komandan dalam hal masak-memasak. Yang lain bertugas sesuai kebutuhan tenaga bantuan yang sedang diperlukan saja.

Sejak awal mereka bergerak sebagai sebuah tim yang solid. Saling mengisi, hingga di tengah cerita Rafli sering menyelisihi instruksi Dewo. Ini sempat menimbulkan ketegangan. Ini lebih karena Rafli menyimpan ketertarikan pada Sonia. Hal ini membuat sikap dan reaksinya sedikit berlebihan dan mengganggu stabilitas kerja sama kelompok mereka. Interaksi kedelapan orang ini banyak diceritakan dalam novel ini.

Di samping itu hal lain yang disuguhkan dalam buku ini adalah keindahan yang digambarkan dapat ditemui selama perjalanan menuju Puncak Rengganis. Deskripsinya cukup jelas dan memantik rasa ingin tahu. Ini menjadi menarik sebab masih jarang yang membahas petualangan di jalur ini dalam bentuk novel. Umumnya lebih banyak membahas Semeru yang juga sesekali disebutkan dalam novel ini.

Namun yang paling banyak digambarkan adalah proses mereka menempuh perjalan menuju dan kembali dari Puncak Rengganis. Tentang informasi yang berseliweran tanpa terverifikasi lebih jauh akan adanya situs kerajaan yang dipimpin oleh perempuan bernama Dewi Rengganis. Tentang adanya sejumlah orang yang melihat sosok – sosok yang diduga Dewi Rengganis ataupun dayang-dayangnya. Namun keberadaan reruntuhan tersebut nyata adanya. Digambarkan pula adanya pengalaman mistis selama perjalanan mereka. Hingga puncaknya salah satu dari tim ini menghilang. Di saat itulah kerjasama tim mereka diuji. Sanggupkah mereka pulang dengan selamat dan lengkap?

***
“Leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego,” (Hal. 208)
Bagi orang yang tidak pernah punya keyakinan diri untuk mengikuti satu pun pendakian, maka membaca novel Rengganis: Altitude 3088 ini membuat kalimat, “Buku bisa membawamu pergi ke manapun,” terbukti nyata. Membaca buku ini membuat saya menjadi anggota tambahan dalam petualangan Dewo dan kawan-kawan. Deskripsi yang cukup detail tentang perjalanan dan apa yang mereka temui selama pendakian memudahkan timbulnya perasaan tersebut.

Buku ini bagi orang yang sangat awam dalam kegiatan pendakian akan menjadi petualangan yang menarik. Pengetahuan-pengetahuan umum bagi pendaki pun banyak bertebaran di dalam buku ini. Hal ini menambah pengetahuan saya. Lihat saja penjelasan Fathur berikut,
“Seandainya kita tersesat atau kehabisan makanan saat di gunung, salah satu cara bertahan hidup alias sebagai survivor adalah mengikuti apa yang biasa dimakan oleh kera, monyet, lutung atau apa pun yang sebangsanya. Karena pencernaan mereka relatif sama dengan manusia. Jadi, tumbuhan yang menjadi makanan mereka insya Allah aman untuk pencernaan kita. ....  Kamu pastikan tumbuhan itu tidak gatal saat kamu gosokkan ke tangan. Dan juga pilih tumbuhan yang daun atau batangnya tidak berbulu. Yang seperti itu biasanya aman untuk pencernaan kita.” (hal. 215 -216)
“Benar. Allah menciptakan alam ini dengan prinsipp-prinsip keseimbangan. .... Di gunung, beberapa contoh terpapar nyata. Sumber air panas dan belerang biasanya ada di ketinggian, berkhasiat menyembuhkan penat di tubuh kita kala mendaki. Bunga lavender tumbuh di lembah basah, dan harumnya bunga ini bermanfaat melindungi tubuh kita dari serangan nyamuk hutan lembab atau tempat gelap. Tumbuhan cantigi, yang batangnya pendek namun sangat kokoh, tumbuh di ketinggian atau tebing, membantu pendaki untuk berpegangan. Bahkan walaupun pohonnya sudah  mati atau ditebang, batangnya masih tetap kuat. Dan, masih ingatkah kalian pada kebun-kebun tembakau selepas dari Baderan? Olesan tembakau bisa membuat kita terhindar dari serangan pacet yang banyak dijumpai pada musim hujan di trek sebelum sabana.” (Hal. 216 -217)
Ada sebuah point yang bagi saya bagai pedang bermata dua di dalam buku ini. Yaitu kehadiran delapan orang tokoh yang seolah menjadi pemeran utama bersama. Atau simplenya saya menyebutkan bahwa tim mereka adalah tokoh utama dalam cerita ini. Ini menarik karena penulis berhasil menggambarkan mereka memiliki karakter yang berbeda-beda meski akhirnya latar belakang setiap tokoh kurang tereksplorasi dengan baik. selain itu, meski mereka secara keseluruhan adalah sebuah tim dan sama-sama menjadi tokoh utama, namun ada tokoh yang lebih menonjol seperti Rafli dan Sonia karena pengalaman mereka lebih banyak “dibocorkan” atau sikapnya lebih mencolok.

Dibanding Sonia, tokoh Ajeng dan Nisa cukup tenggelam. Selain itu entah kenapa ada peluang konflik yang tidak diolah lebih jauh oleh penulis yakni hubungan yang terjalin antara Dewo, Nisa dan Ajeng. Sebab di awal cerita saya sempat mendapat “kode” bahwa bisa jadi Nisa menyukai Dewo (tapi bisa jadi saya yang salah membaca kode *selalu gak paham bahasa perkode-kodean*), sedangkan Dewo menyukai orang lain dalam tersebut.

Hm.. saya suka dengan apa yang saya baca di buku ini. Memberi saya sensasi petualangan yang asing namun tidak membuat saya bosan.

Btw, kok nggak dibahas gimana keseharian Nisa dan Ajeng sebagai perempuan berjilbab di dalam petualang ini? *penasaran* (^_^)

1 komentar:

  1. Makasih yaa reviewnya :)
    Baca juga unek2 saya di review Rengganis di sini: http://azzura-dayana.blogspot.co.id/2016/01/menjawab-rengganis.html

    BalasHapus