Senin, 29 Desember 2014

The Marriage Roller Coaster



“It’s funny that most of the time the person you love the most, is also the person you hate the most. The person you wanna kiss, is also the person you wanna kill. The person you cannot live without, is also the person you wanna let go.” (Hal. 179)


Penulis: Nurilla Iryani
Editor: Herlina P. Dewi
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout: DeeJee
Proof Reader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Catakan: I, Desember 2013
Jumlah hal.: 206 halaman
ISBN: 978-602-7572-22-5
Kehidupan pernikahan itu bagaikan rollercoaster. Yes? No?

Jungkir balik! Kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang menikmati dan tertawa bahagia, ada juga yang tersiksa dan menangis tersedu. Setelah mencobanya, setiap orang punya pilihan masing-masing: ingin terus mencoba atau justru kapok luar biasa.

Bagaimana dengan Audi dan Rafa? Kehidupan urban yang dijalani pasangan ini memberi tantangan lebih pada pernikahan mereka. Bagaimana mencari waktu untuk bersama di tengah kesibukan mereka. Bagaimana mengatur mood setelah semua energi positif hilang di kantor. Bagaimana menahan godaan dari orang yang pernah hadir di masa lalu.

Akankah mereka terus mencoba dan bertahan?
 Atau justru kapok dan menyerah?

***

“.... Marriage is like roller coaster. Ada ups and downs. ...” (Hal. 175)

Bagaimana rasanya menikahi laki-laki yang dicintai? Bahagia? Apakah kehidupan pernikahan itu seindah masa pacaran? Banyak kisah nyata terkait cerita semacam ini, namun menarik juga membaca karya fiksi yang saya rasa pun bisa jadi memang ada di dunia nyata.

Pernikahan Audi dan Rafa memang masih sangat muda. Baru setahun lebih. Namun ternyata kisah cinta yang dialami di masa pernikahan tidak seindah yang diharapkan Audi. Rafa adalah seorang workaholic. Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagi Audi sebab ia sendiri juga bekerja sebagai marketing researcher. Meskipun tetap saja ia masih tidak bisa memahami mengapa suaminya selalu pulang malam.

Ketidaknyamanan itu masih bisa ditahan oleh Audi hingga suatu hari muncullah Yoga. Mantan kekasihnya sebelum Rafa. Yoga yang tidak mengetahui bahwa Audi telah menikah kembali mendekat. Ia bahkan menjadi klien Audi. Dan Audi dengan lihainya memanfaatkan perasaan Yoga untuk bisa mendapatkan kerja sama dengan perusahaan besar tempat Yoga bekerja. Namun akhirnya Audi pun mengakui pada Yoga bahwa ia telah berkeluarga. 

Di waktu yang sama hubungan Audi dan Rafa menegang. Rafa yang ingin menunda rencana untuk memiliki momongan marah saat menyadari bahwa Audi “kecolongan”. Setelah itu rentetan pertengkaran terjadi satu demi satu. Audi berkali-kali mengalah dengan berhenti bekerja saat ia bahkan baru saja akan dipromosikan menjadi manajer. Adaptasi Audi dari seorang worker menjadi seorang full time housewife terasa sangat berat karena Rafa tidak hadir untuk mendukungnya. Rafa terus saja sibuk dengan pekerjaannya. Hingga di satu titik Audi pun meledak dan berfikir untuk menyerah mempertahankan hubungannya dengan Rafa. Apakah Audi berhasil melewati masa kritis di awal-awal pernikahannya ini?


“No. Bisa jadi memang benar kamu orang yang tepat buat aku. Tapi sayangnya, aku bukan orang yang tepat bagi kamu.” ( Hal. 124)

***

“Forgiving is easy, forgetting is not. I can’t stand the pain anymore,” (Hal. 184)

Menggunakan sudut pandang orang pertama penulis berhasil menampilkan berbagai emosi tokoh Audi yang tengah beradaptasi dengan kehidupan berumah tangga. Novel ini juga sangat terasa sebagai novel yang diperuntukkan bagi perempuan sebab menggunakan logika perempuan. Lihat saja kesah Audi tentang sikap Rafa ini,
“Rafa selalu saja mencari solusi dari semua masalah yang aku utarakan. Padahal, kadang yang aku butuhkan bukan solusi. Yang aku butuhkan hanya dia duduk di sampingku, mendengarkanku dengan sabar lalu bilang kalau semua akan baik-baik saja. Sesimpel itu.” (hal. 29)
Bagi saya sebagai pembaca perempuan langsung berkata, “Ya! Ya! Bener banget. Kadang pengin dimengerti sesimple itu aja kok.” Tapi kadang saya juga jadi ingin menjitak Audi saat ia berpikir dan bersikap sangat kekanak-kanakan. Terutama dalam kasus hubungannya dengan Yoga, mantan kekasihnya.

Novel ini memang benar-benar sesuai dibaca untuk perempuan. Terutama mereka yang masih muda dan baru meniti rumah tangga. Banyak gosip yang sering saya baca dengar bahwa 2 tahun awal pernikahan termasuk masa-masa kritis sebab itu adalah moment adaptasi. Kebiasaan-kebiasaan yang harus dijembatani oleh pengertian dan sebagainya. Pertengkaran pun bisa jadi bumbu yang mewarnai, entah menjadi indah atau suram tergantung pasangan tersebut menyikapinya. Hm..tapi sekali lagi itu bagi saya baru gosip sebab saya sendiri belum menikah. He..he.. (^_^)v *kemudian ditimpuk buku oleh pembaca*

Hm..banyak kalimat yang menarik yang saya temukan di dalam buku ini. Namun kadang saya tidak bisa membayangkan mengatakan kalimat seperti itu di dunia nyata. Kalau menuliskannya dalam surat cinta sih saya masih sanggup. Tapi saat menyampaikannya secara lugas rasanya agak aneh dan geli gimana gitu :D 

Contohnya kalimat ini. Dalam sih, tapi entahlah jika diucapkan secara langsung.
“I love you, Raf. I love you so much. I don’t even know why I’m still in love with you. But, I don’t wanna live with someone who makes me feel like I’m the most insignificant person in the world. Aku pengin ngerasa dicintai, aku pengin ngerasa dibutuhkan. I need it. I’m desperate for it.” (Hal. 183)
Konflik di dalam buku ini sudah menarik. Klimaks sudah diberi pengantar yang baik. Tapi rasanya ada feel yang kurang penjelasan tentang sikap Rafa kurang tereksplore. Ini bisa jadi karena penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga cerita dari sisi Rafa tidak bisa terjabarkan dengan baik. 

Oiya, satu hal yang perlu diketahui bagi yang ingin membaca buku ini. Banyak sekali kalimat dalam bahasa Inggris. Sehingga bagi yang tidak begitu menguasai bahasa tersebut akan merasa terganggu sebab banyak kalimat penting yang malah ditampilkan dalam bahasa tersebut.
“Sometimes the one who makes you cry is also the one who can make you smile all over again.” (Hal. 200)
Tapi selama kendala bahasa ini bisa disiasati atau tidak jadi masalah, buku ini bisa jadi pilihan menarik. Saya yakin di luar sana ada kisah yang cukup mirip dengan yang diangkat oleh Nurilla Iryani ini.

 “.... Klise! Cari duit buat keluarga tapi justru gak ada waktu buat keluarga. Pointless!” (hal 182)


4 komentar:

  1. bagus mbak review-nya,jadi penasaran pingin baca bukunya ^_^

    BalasHapus
  2. baca sekilas, temanya sebenarnya umum ya, tapi kalo penuturannya oke ya oke aja sih ceritanya

    BalasHapus
  3. selalu suka baca reviewnya Atria.. :)
    buku2 stiletto kayaknya emang segmentasinya buat cewek ya..

    BalasHapus
  4. Aku baru pertama kali dengar nama penulis ini

    BalasHapus