Senin, 01 Desember 2014

Warna Hati



tidak kah itu menyakitkan?”tanyanya pelan,”benci dan cinta bercampur menjadi satu.” (hal. 182)
 


Penulis: Sienta Sasika Novel
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Kover & Ilustrasi: Lisa Fajar Riana
Penata Isi: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: viii + 204 halaman
ISBN: 978-602-251-435-0

Setiap cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.

Kita pun tidak akan mampu memilih cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.

Dan saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tak ia pilih?

Namun, cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.

***

Tavita adalah perempuan yang cukup beruntung. Di saat perempuan lain galau karena jodoh, ia malah didekati oleh dua orang pria menarik. Keduanya punya niatan serius dengannya. Lando, seorang laki-laki yang secara fisik menarik, musisi yang tengah merintis kariernya, penyabar dan penyayang. Razka, laki-laki yang secara ekonomi sangat berkecukupan bahkan berkelebihan, selalu bisa memanjakan Tavita, dan bisa membuat Tavita dan keluarganya bahagia. Namun ternyata terjebak di antara dua pilihan ini malah menyulitkan Tavita mengambil keputusan. Ia takut membuat pilihan yang salah. Pilihan yang akan ia sesali.

Dalam novel Warna Hati karya Sienta Sasika Novel ini, pembaca disuguhi dua kehidupan, masing dalam Chapter Jingga dan Chapter Biru. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis menampilkan kehidupan yang dijalani oleh Tavita bersama pilihan yang telah ia buat.

Dalam chapter Jingga, diceritakan kehidupan Tavita sebagai istri Lando. Lando adalah suami yang penyayang  dan penyabar. Ia berusaha dan bekerja keras untuk membahagiakan Tavita. Namun meski secara batin Tavita merasa aman, namun kemelut rumah tangga muncul dari faktor ekonomi. Penghasilan Lando sangat tidak menentu. Bahkan lebih sering terasa kurang.

Awalnya Tavita tidak mempermasalahkan hal ini. Kebahagiaan yang dia rasakan bersama Lando yang sangat menyayanginya dirasa cukup. Namun saat kehamilan melemahkan fisik dan mental Tavita, sekelilingnya membuatnya menyesali pilihannya. Ibu Tavita tiada henti menekan Tavita untuk bercerai dari Lando yang dianggap tidak mampu menafkahi Tavita. Sepupu Tavita yang sibuk memamerkan kemapanan ekonomi suaminya dan juga merendahkannya semakin melukai hati Tavita. Puncaknya, ia goyah saat bertemu kembali dengan Razka. Serta menyadari bahwa jika bersama Razka, semua keperluan Tavita dan keluarga bisa tercukupi. Dan Tavita tidak perlu bekerja keras serta direndahkan oleh orang lain. Jadi, pantaskah Tavita menyesali keputusannya? Jalan apa yang akan ia piliha? Bisakah ia memperbaiki keadaan?

Kemudian di chapter Biru, Tavita diceritakan menjadi istri Razka. Bagian ini dibuka dengan setting rumah sakit. Razka mengalami kecelakaan mobil. Dalam kecelakaan itu Razka diketahui tengah bepergian berdua dengan seorang perempuan yang ternyata adalah istri Lando. Kemudian, akhirnya ia menemukan sebuah bukti ketidaksetiaan Razka.

Lantas apa yang harus dilakukan Tavita? Apakah ia akan membalas pengkhianatan Razka saat suaminya itu tersadar dari kondisi koma? Mampukah ia memaafkan? Lantas apakah semua kenyamanan dan kemapanan materi ini sebanding dengan sakit hati Tavita akibat dikhianati? 

Dua versi cerita ini ditampilkan dengan cukup menarik oleh Sienta Sasika Novel.

***

Membaca dua suguhan cerita di Warna Hati ini, pembaca seolah diingatkan bahwa tidak ada yang namanya pilihan sempurna. Tidak ada pilihan yang aman. Setiap kisah punya bahagia dan dukanya sendiri. Melalui kisah Tavita kita akan bertanya-tanya. Apakah hidup sederhana dan seadanya namun mendapatkan kesetiaan pasangan jauh lebih baik daripada kehidupan sejahtera namun sang suami asyik bercumbu dengan perempuan lain? Ini jelas suguhan yang menarik.

Plot cerita di Warna Hati ini memang menarik. Dekat dengan realitas. Tapi ada perbedaan signifikan dalam karakter Tavita di Jingga dan Biru. Di Jingga, karakter Tavita tidak berkembang, bahkan cenderung mengalami penurunan. Konflik cerita tidak membuat karakter Tavita menguat. Sebaliknya ia melemah. Bahkan akhir cerita Jingga terkesan terjadi perubahan keputusan drastis tanpa alasan yang benar-benar jelas.
Berbeda halnya dengan karakter Tavita di Biru. Tavita terkesan agak datar. Hanya berkutat di kebingungannya sendiri. Hanya diperasaan sedih. Saya malah berharap muncul perasaan jijik dari dalam diri Tavita karena melihat video perselingkuhan suaminya. Sayangnya Tavita terlalu sibuk dengan luka hati saja. Itu pun tentang pilihan menerima dan memaafkan. Rasanya proses pemaafan ini juga kurang smooth.

Tapi untuk hal lain di luar karakter ini sudah ok. Saya suka dengan pesan yang coba disampaikan oleh penulis. Tentang pilihan. Tentang semua ada resikonya. Tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi konsekuensi pilihan itu, bukannya sibuk menyesalinya.

puisi saya yang terinspirasi buku Warna Hati

 “Mungkin keikhlasan adalah jalan terbaik dibandingkan kehilangan.” (hal. 194)

7 komentar:

  1. novel romance banget ya temanya :)

    BalasHapus
  2. Saya belum pernah membaca karya Sienta. Kelihatannya ini temanya seperti Amore-GPU ya. Hebat nih yg ngereview sampe bikinin puisinya segala :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pure romance, Mbak.
      he..he..lagi senang bikin puisi kak (^_^)

      Hapus
  3. Setuju dengan mb Ela, keren banget bisa membuat puisi untuk sebuah buku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagi menantang diri sendiri untuk selalu menulis puisi untuk buku2 yang sudah dibaca.
      Hitung-hitung merutinkan diri menulis

      Hapus
  4. jadi iri sama Tavita, kapan yaaa direbutin cowok yang kedua2nya serius begitu? hmmm... kalau saya jadi dia, saya pilih Razka saja deh. mama saya pasti juga udah setuju, kan udah mapan, hehe. Tapi... chapter Biru bikin saya JLEB. Gak jadi deh, takut diduakan >.<

    Asyik ya, ide Sienta Sasika Novel memang selalu menarik. masih saya ingat novel stroberi-nya yang unyuuu banget, tentang shienta dan bintang. eh sekarang karya teranyarnya makin bikin penasaran: Warna Hati. memang, tiap pilihan selalu memiliki kebaikan dan keburukan masing2, di hidup tidak akan ada yang sempurna

    BalasHapus