Selasa, 02 Mei 2017

Rumah Tangga



“Kita selalu gagal menertawakan lelucon yang sama untuk kali kedua atau ketiga, kan? Lalu, mengapa kita selalu berhasil menangisi hal yang sama berkali-kali?” (Hal. 31)


Penulis: Fahd Pahdepie
Editor: Gita Romadhona
Editor akhir: Ayuning
Penyelaras akhir: eNHa
Penata letak: Nopianto Ricaesar
Desain sampul: Indra Fauzi
Penyelaras tata letak dan desain sampul: Landi A. Handwiko
Penerbit: PandaMedia
Cetakan: Keenam, 2015
Jumlah hal.: x + 286 halaman
ISBN: 979-780-813-0

Kita adalah dua orang biasa yang saling jatuh cinta. Lalu, kita bersandar pada kekuatan satu sama lain. Terus berusaha memaafkan kekurangan satu sama lain.
Kita adalah dua orang yang berbagi rahasia untuk menyumblimkan diri masing-masing. Saling percaya dan berusaha saling menjaga.
Kita adalah dua pemimpi yang kadang-kadang terlalu lelah untuk terus berlari. Namun, kita berjanji saling berbagi punggung untuk bersandar, berbagi tangis saat harus bertengkar.
Kita adalah dua orang egois yang memutuskan menikah.
Kemudian, setiap hari, kita berusaha mengalahkan diri masing-masing.

...Dengan sejumlah rasa pengertian dan kesepahaman, engkau bersenang hati menghormatiku sebagai suami dan aku bahagia menyayangimu sebagai seorang istri.

***

“Barangkali, ada yang pernah atau sedang kita sesali; hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda segala peristiwa seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.” (Hal. 30)

Buku ini berisi kumpulan tulisan singkat Fahd Pahdepi dalam memandang berbagai hal dalam rumah tangga. Tulisannya pendek-pendek berkisah 1-4 halaman untuk setiap judul. Beberapa tulisannya saya dapati sebagai tulisan yang sempat di-share Fahd di fanpage-nya.

Tulisan dibuka dengan cara yang pas. Ia menggali kembali ingatannya tentang hari pernikahannya dengan Rizqha, sang istri. Saya dibuat terharu dengan ceritanya. Ternyata hubungan mereka tidak seindah di dalam dongeng.


Isi buku ini dipenuhi narasi dan banyak kontemplatif. Namun sejujurnya selama membaca saya agak merasa malu. Ini karena tulisan-tulisannya amat personal. Saya merasa menjadi orang yang ikut membaca surat cinta yang ditujukan Fahd pada istrinya.

Salah satu part favorit saya adalah Surga yang Sudah Kita Tahu di bagian ini, percakapan Fahd dan istrinya terasa menarik dan sebenarnya menjelaskan tagline buku ini,”Berumah dalam cinta, di tangga menuju surga.” Bagian ini juga mengingatkan pasangan suami istri untuk mensyukuri surga kecil miliknya. Bahwa kebersamaan adalah sebuah surga kecil bagi sepasang suami istri yang berusaha saling mendampingi dengan baik.
 “Bagiku, mencintaimu adalah semacam usaha yang tak pernah selesai.” (Hal. 57)
***
“Istri yang baik adalah yang menghebatkan suaminya? Hei, hal itu harus juga berlaku sebaliknya, dong! Tugas perempuan bukan hanya pelengkap atau pendukung kaum laki-laki, mereka juga pemeran utama dalan kehidupan ini.” (Hal. 70)

Warning! Untuk para suami jangan biarkan istri anda membaca buku ini sendirian. Kasihan, nanti baper sendiri. Dan kemudian berharap suaminya bisa semanis Fahd dalam merangkai kata.

Dan untuk para perempuan yang membaca buku ini, jangan berharap banyak. Tidak semua suami pandai merangkai kata. Suami saya juga gitu kok. Tapi melalui buku ini kita juga diajak berefleksi bahwa cinta mewujud dalam obrolan ringan sehari-hari, pada tindakan simple, bukan hanya pada hal-hal besar.

Oiya, buku ini juga quote-able banget. Makanya akhirnya saya putuskan untuk tidak memasukkan banyak quote dalam ulasan ini karena nanti kepenuh. Nanti ulasan ini isinya kutipan semua. He..he.. 

“Kita tidak bisa menyelesaikan semua masalah, .... Berdoa adalah cari kita meminta bantuan Tuhan untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang kita hadapi.” (Hal. 106)

1 komentar: